Tata Kelola Bisnis Film dan Bioskop Antara Nasional dan Asing

0
21

POSFILM.COM – Kabar akan ada investor dari Tiongkok yang akan membangun bioskop mengundang reaksi beberapa pihak, khususnya para pengusaha bioskop dan poduser film, tentunya para jurnalis yang ingin tahu kebenaran kabar tersebut.

Dua tahun lalu kabar yang persis juga menyeruak hanya beda negara asal meski sama-sama ras kuning. Korea Selatan melalui usaha hypermartnya bermerek Lotte akan membangun ruang bioskop di setiap gerai Lotte. Namun, hingga menuliskan kabar ini tidak ada realisasi mengenai bioskop made in Korea Selatan itu.

Reaksi pro kontra adanya investor asing yang masuk ke dalam bisnis perfilman  pun mengemuka dengan berbagai dalih dan argumen. Sebagian pengusaha bioskop dan produser film mengkhawatirkan dengan kehadiran pihak asing yang ‘ikut main’ di bisnis perfilman akan menepikan film-film anak bangsa.

Pemerintah Indonesia merevisi aturan Daftar Negatif Investasi (DNI) bagi industri pertunjukan film, termasuk bioskop dan distribusi film. Nantinya, asing akan bisa berinvestasi selebar-lebarnya di sektor film, bahkan hingga 100%.

Perbaikan ini tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal, yang ditandatangani Presiden Joko Widodo pada tanggal 12 Mei 2016. Peraturan baru tersebut menggantikan peraturan lama, yaitu Perpres No. 39 Tahun 2014.

 Peraturan itu memuat delapan sub bidang usaha perfilman yang tidak meng haruskan menggunakan 100% modal dalam negeri, antara lain pembuatan film, pertunjukan film, studio rekaman (kaset, VCD, DVD,dll), pengedaran, pembuatan sarana promosi, sarana pengambilan gambar, sarana penyuntingan, dan sarana pemberian teks film.

Djoni Syafrudin sebagai pengusaha bioskop melihat belum saatnya para pemegang otoritas bidang ekonomi di republik ini membuka kran kebijakan tersebut. Namun, Djoni tidak bersikukuh tidak boleh seratus persen.

”Dibatasi wilayah operasionalnya hanya di ibu kota provinsi saja,jangan sampai ke kabupaten. Bahaya lho. Karena film tidak hanya menyangkut masalah ekonomi, infiltrasi budaya melalui film lebih bahaya,”demikian argue Djoni yang juga Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Indonesia, GPBSI.

Setelah kran kebijkan investasi di bidang distribusi film dibuka, Djoni berharap pemerintah bisa mengatur tata kelola tersebut melalui Peraturan Pelaksanaan dari Undang undang Perfilman No.33 tahun 2009. Di mana pengusaha bioskop khususnya mendapatkan bantuan pemerintah melalui pinjaman lunak.

”Sekarang sudah diterbitkan mau apalagi. Kita oke oke saja, tetapi hendaknya pemerintah juga memberikan kredit lunak melalui bank pemerintah untuk pengusaha bioskop bisa membangun bioskop di wilayah Indonesia,” ujar Djoni sambil menekankan bahwa pengusaha nasional mampu memenuhi kebutuhan penonton film Indonesia akan gedung bioskop.

“Mereka itu punya grand desain tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga dari aspek budaya. Mereka atur sedemikian rupa hari dan jam tayang di bioskop-bioskop mereka dengan film-film dari negeri mereka pada hari dan jam yang banyak pengunjungnya. Sementara film kita, hanya diberi layar sedikit dan waktu pada hari dan jam yang sepi penonton,” ungkap Ody Mulya Hidayat, dari Max Pictures, dan Sekretaris Jenderal Asosiasi Produser Film Indonesia (APFI).

Terkait teknis waktu penayangan film di bioskop-bioskop Indonesia relevansinya dengan pengunjung bioskop, Ody menjelaskan film Indonesia selama ini mendapat jatah dua atau tiga film setiap setiap pekan, dan awal penayangan hari Kamis.

”Penonton terbanyak setiap akhir pekan Jumat malam dan Sabtu malam. Hari Minggu biasanya ramai pada siang dan sore hari. Bila waktu-waktu ini dipergunakan oleh investor asing untuk tayang film-film mereka, kemudian film nasional diberi jatah waktu tayang Senin hingga Kamis, bukan hanya produser yang menjerit tapi pengusaha bioskop akan gulung tikar,” tutur Ody yang sukses lewat film 99 Cahaya di Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika. [PF/Didang P. Sasmita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here