Review Film Ziarah (2017): Kemampuan seorang BW Putra Negara Mengendalikan Keinginan dan Kebutuhan

0
94

POSFILM.COM – Bagi sebagian pencinta film nasional, akan merindukan film-film seperti film Ziarah ini. Film karya besutan sutradara asal Yogyakarta, BW Putra Negara, yang mampu menuangkan ide cerita dan konsep gagasan ke dalam sebuah jalinan cerita, dikemas dengan bahasa gambar dan dramatik yang bagus dan menarik.

Sebuah ide cerita dapat berasal dari mana saja. Namun, bagaimana menuangkannya menjadi cerita yang menarik, apalagi dikemas untuk menjadi sebuah film, disitulah tantangannya. Dan tantangan tersebut mampu dikendalikan oleh BW Putra Negara.

Film Ziarah akan lebih banyak bercerita tentang perjalanan mbah Sri, seorang nenek berusia 95 tahun. Digambarkan sang nenek menyusuri lembah, gunung, perbukitan dan berbagai bentang alam di pelosok desa.

Dalam perjalanan panjangnya, mbah Sri akan bertemu dengan orang-orang yang tengah berdialog tentang tanahnya. Orang-orang yang memperjuangkan tanahnya. Dan, orang-orang yang tersingkirkan dari tanahnya.

Bagi mbah Sri perjalanan mencari makam sang suami ini tidak sekedar menjadi perjalanan menyusuri sejarah cintanya. Tapi juga menyusuri luka-luka sejarah bangsanya. Perjalanan ini berujung pada sebuah temuan fakta yang menyakitkan.  Namun, Bagi mbah Sri, rasa sakit itu berkah, karena dari situ ia bisa belajar tentang hakikat pasrah.

Dengan sikap pasrah itulah ia berhasil mengais satu bentuk kemenangan, bahkan ketika ia terpuruk dalam kekalahan. Suatu sikap yang membuatnya berhasil menemukan cinta dengan cara yang tak pernah ia duga.

Film Ziarah menjadi terasa lebih dekat dengan keadaan dan kenyataan sebenarnya berkat pemilihan pemainnya. Setiap sutradara dan produser memiliki cara pandang yang berbeda ketika menggrap sebuah film.

Kemampuan sutradara yang tidak hanya mengarahkan acting dan jalan cerita film, namun juga kemampuan menyatukan cara pandang pada seluruh tim produksi yang terlibat, juga mengendalikan keinginan dan kebutuhan, dapat terlihat dan terasa lewat film Ziarah ini.

Dalam peilihan pemeran, agar lebih otentik, sang sutradara sengaja meng casting orang-orang yang benar-benar pernah mengalami masa perang. Salah satunya adalah tokoh mbah Sri yang diperankan oleh mbah Ponco Sutiyem, seorang nenek berusia 95 tahun, warga kecamatan Ngawen, Gunung Kidul.

ZIARAH (2017)-mbah Sri-pf-1
Mbah Sri diperankan oleh Ponco Sutiyem, nenek berusia 95 tahun, warga kecamatan Ngawen, Gunung Kidul

Baca Juga:  Sinopsis Film ZIARAH: Hakikat Kesetiaan dan Cinta

Mbah Ponco ini pada masa agresi militer Belanda ke II, suaminya ditangkap oleh Belanda. Pada waktu itu mbah Ponco berhasil melarikan diri, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pengalaman mbah Ponco ini pun oleh sang sutradara dimasukan sebagai bagian dari cerita film Ziarah.

Sudah pasti mbah Ponco yang asli petani dah sudah berusia lanjut ini tidaklah memiliki pengetahuan tentang akting. Namun pengalaman hidup semasa perang itu cukup untuk dijadikan modal acting, ditambah latihan yang intensif, akhirnya mbah Ponco dapat bermain dengan prima.

Dengan pemilihan pemeran seperti ini, akting dan tokoh film Ziarah jadi tampak dramatis dan otentik.

Film Ziarah merupakan film layar lebar pertama BW Putra Negara, bersama tim produksi yang seluruhnya merupakan filmmaker asal Yogyakarta.

BW Putra Negara telah aktif dalam membuat karya yang berupa film pendek yang sudah meraih berbagai penghargaan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Diantaranya ‘Digdaya Ing Bebaya’ (2014), ‘Kamu di Kanan Aku Senang’ (2013), ‘Bermula dari A’ (2011), ‘Musafir’ (2008), ‘Cheng Cheng Po’ (2007).[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here