Mengenang Si Babe “BENYAMIN SUEB “, 22Tahun Meninggalkan Semua Kebanyolannya Yang Fenomenal

0
62

POSFILM.COM – Hari ini adalah tepat 22 tahun yang lalu, 5 September 1995, seniman serba bisa yang sangat fenomenal meninggal dunia, Benyamin Sueb. Dunia hiburan Tanah Air saat itu sangat shock karena kehilangan aktor, penyanyi, pelawak, sutradara yang menjadi ikon budaya Betawi, Benyamin meninggalkan banyak kenangan dan serta gaya kocaknya yang belum ada tandingannya hingga saat ini.

Benyamin S. adalah seniman Betawi asli kelahiran Kemayoran, Jakarta, 5 Maret 1939. Kekocakan dan akting terakhirnya dapat dilihat saat ia sukses dikenal sebagai Babe dalam cerita sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang booming pada tahun 90-an, mempunyai gaya yang sangat khas seorang Betawi tulen. Nyeleneh, kocak, jujur, semua sangat segar dan langsung bisa diserap para penonton karena kejujurannya dalam berakting.

“Habis, gaji tetap belum terima, dapat sopir ngajarin korupsi mulu.”

Sebelum menjadi legenda Betawi, Benyamin S menjalaninya dari bawah secara berproses. Bungsu dari delapan bersaudara pasangan Sueb-Aisyah. Bapaknya meninggal saat Benyamin baru berusia dua tahun. Untuk membantu kondisi ekonomi keluarga yang tak menentu, Bens kecil yang masih berusia 3 tahun diijinkan ngamen keliling kampung dan hasilnya buat biaya sekolah kakak-kakaknya.

Benyamin S menikah muda pada usia 20 tahun, dengan wanita bernama Nonnie, dan harus bisa menafkahi keluarga. Menjadi tukang roti dorong dan kondektur PPD pun waktu itu ia dilakoni. Menghidupi keluarga bukan soal uang semata. Tapi juga dari mana uang itu berasal. Benyamin  menolak jika uang untuk memberi makan istri berasal dari hasil korupsi.

Saat Benyamin  menjadi kondektur PPD trayek Lapangan Banteng-Pasar Rumput, ia hanya bertahan beberapa bulan. Dia mengeluh karena sopir mengajarkan korupsi. Caranya, meski penumpang penuh, karcis tidak diberikan ke penumpang. Sehingga uang yang didapat dari penumpang tidak disetor, tapi masuk kantong pribadi.

Benyamin yang lulusan SMA Taman Siswa Kemayoran, dilema antara pendapatan besar hasil korupsi, atau hanya dari gaji tipis tapi jujur.

Tidak tahan, Benyamin memilih keluar dari pekerjaannya dan melamar menjadi pegawai administrasi di Bagian Amunisi Peralatan Angkatan Darat (1959-1960), Bagian Musik Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).

“Kalau tidak ada larangan Bung Karno, saya barangkali tidak akan pernah menjadi penyanyi lagu-lagu Betawi.”

Perkenalan Benyamin  dengan musik memang sedari kecil. Usai 6 tahun ia membentuk grup Orkes Kaleng bersama 7 kakaknya, mereka ngamen hingga ia membentuk grup band semasa dia muda, sebelum akhirnya masuk dapur rekaman.

Sejak 1957, pada usia 18 tahun, Benyamin  bergabung dengan Melody Boys bersama Rahmat Kartolo dan lainnya. Benyamin menempati posisi penyanyi latar dan bongo di grup band yang biasa keliling dari satu klub ke pentas lainnya. Lagu yang mereka bawakan biasanya lagu-lagu Barat untuk mengiringi dansa dengan irama jazz atau blues.

Namun, semua berubah ketika Presiden Soekarno menggencarkan larangan menyanyikan musik ngak ngik ngok dari Barat sejak awal 1960-an.

Pada 1964, Soekarno dalam pidato kenegaraan 17 Agustus, menyatakan Indonesia harus berdikari dalam bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan. Soekarno menentang keras apa yang disebutnya musik ‘ngak ngik ngok’, literatur picisan, dan dansa-dansi yang menurutnya bisa merusak moral bangsa melalui penetrasi kebudayaan.

Berawal dari itu, Melody Boys kemudian berganti nama menjadi Melodi Ria. Benyamin  pun berinovasi dengan memasukkan Gambang Kromong dalam musiknya dikemudian hari. Hal tersebut yang akhirnya menjadi ciri khas lagu-lagu Benyamin yang nge Rock tapi bernuansa Indonesia.

“Biarin Da, gue dikatain muka kampungan, tapi rezeki kita, rezeki kotaan.”

Kalimat ini tampaknya menjadi kalimat yang terkenal hingga sekarang: muka kampung rezeki kota. Bahkan menjadi salah satu judul buku biographi Benyamin  yang ditulis oleh Ludhy Cahyana.

Munculnya kalimat ini bermula dari obrolan Benyamin dengan Ida Royani, pasangan duetnya.

Ida yang sebelumnya tidak mau berduet dengan Benyamin  karena beda gaya penampilan, akhirnya masuk dapur rekaman bersama dia. Benyamin  tidak memperdulikan penampilan, sementara Ida saat itu dikenal sebagai sebagai penyanyi remaja yang funky dan jadi trendsetter.

Album duet pertama mereka yang berjudul Tukang Kridit laris manis di pasaran dan disukai banyak orang.

Dalam buku Kompor Mleduk Benyamin S, ditulis bahwa Ida mengaku sering mengatakan pada Benyamin bahwa, “Ben, lu mesti tau, gue nyanyi ama lu ini neken perasaan. Sering dibilang kampung ama orang. Lu mesti bersyukur!”

Benyamin  yang tidak peduli kata orang pun menjawab, “Biarin Da, gue dikatain muka kampungan, tapi rezeki kita, rezeki kotaan.”

“Kepuasan adalah kemunduran.”

Benyamin  memang selalu berinovasi. Sewaktu dia kecil, Benyamin membuat grup ngamen yang dia bentuk bersama ketujuh kakaknya, diberi nama Orkes Kaleng. Tidak ada alat musik, Benyamin memanfaatkan barang-barang bekas yang ada.

Belajar musik seperti bongo dan gitar pun dilakukan secara otodidak. Ketika musik ngak ngik ngok ditentang, Benyamin  berinovasi dengan lagu Betawi dan Gambang Kromong bergaya modern. Berbagai genre musik dia coba dalam lagu-lagunya seperti jazz, blues, rock, rap, dan dangdut dengan tetap memakai budaya Betawi..

Bukan cuma bermain musik, mencipta lagu, dan bernyanyi, Benyamin pun terjun ke dunia akting. Tak main-main Benyamin bahkan menyabet dua Piala Citra dalam ajang Festival Film Indonesia untuk Aktor Terbaik pada 1972 (Intan Berduri) dan 1977 (Si Doel Anak Moderen). Menyutradarai film pun dia lakoni.

Tak heran jika dia mengatakan, kepuasan adalah kemunduran.

“Gua biar banting tulang dah asal lu sekolah yang bener.”

Sebagai seorang bapak, Benyamin  juga sangat mementingkan pendidikan anak-anaknya. Salah satu putranya, Biem Benyamin, dalam salah satu media pernah menceritakan hal itu.

“Saya ambil jurusan computer science lulus tahun 1989. Babe mah gak tau soal jurusan, yang penting dia bilang ‘Gua biar banting tulang dah asal lu sekolah yang bener,” kenang Biem yang berkuliah di Denver, Colorado, AS itu.

Sosok seorang bapak yang ingin anaknya melanjutkan pendidikan tinggi itu juga tampak dalam peran Benyamin  di sinetron Si Doel Anak Sekolah. Sinetron yang tayang sejak 1994 ini sukses dan mencetak sejarah dengan mencapai episode terpanjang saat itu.

Walau sudah 22 tahun Benyamin meninggalkan kita namun karya-karyanya masih dikenang hingga saat ini, banyak generasi sembilan puluhan yang masih setia mendengarkan lagu-lagunya. Hingga ada sebuah group band yang bernama Jiung Band, yang meng-copy paste gaya-gaya Benyamin beserta lagu-lagunya, dan group tersebut sangat populer karena membawakan gaya Benyamin.

Hal tersebut menandakan bahwa Benyamin bukan sekedar pelaku seni biasa namun sangat fenomenal karena kejeniusannya dalam melakukan perannya ataupun dalam bernyanyi, inget kata Benyamin “Kingkong lu Lawan…”

Ya seperti itulah kira-kira sang fenomenal Benyamin Sueb belum tertandingi hingga saat ini. Seorang legenda Betawi yang sangat jujur dalam perannya maupun dalam kehidupannya.

Kita semua kangen lu Ben….. [PF /Dewi Shinta]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here