Kritik Film Jangan Asma, Asal Mangap

0
29

POSFILM.COM – Kabar baik yang datang di bidang perfilman nasional, adanya peningkatan jumlah penonton film nasional pada tahun 2016 sebesar 33 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Data yang diucapkan oleh Djoni Syafruddin, Ketua Gabungan Pangusaha Bioskop Seluruh Indonesia, (GPBSI).

Bagi penggiat film dan perfilman nasional peluang ini tentu membahagiakan. Salah satu di antaranya adalah Chand Parwez Servia, pemilik sekaligus produser rumah produksi Kharisma Starvision Plus.  Pria yang kerap disapa Parwez ini, mengatakan peluang yang ada ini bagi para produser film hendaknya dirawat  dan disikapi dengan membuat film-film yang berkuallitas.

”Bila film nasional ingin tetap diminati oleh penonton, suguhkan mereka film-film yang berkualitas. Jangan membuat film yang hanya sekedar menghitung untung rugi. Karena film yang berkualitas dengan sendirinya akan diminati penonton,” kata Parwez berargumen.

Pemerintah melalui, Pusat Pengembangan Film, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, (Kemendikbud), terus mendorong agar peningkatan kualitas film dan perfilman di Indonesia melalui berbagai kebijakan dan program kegiatan yang mengarah pada peningkatan tersebut.

Realisasi kebijakan pemerintah dalam mendorong peningkatan kualitas film, satu diantara program kebijakan tersebut menggelar Workshop Penulisan Kritik Film dan Artikel Film Non Kritik Apresiasi Film Indonesia 2017, di hotel Alila, Jakarta, baru baru ini.

Dalam pandangan Kepala Pusat Pengembangan Film (Pusbang Film), Maman Wijaya, kritik film merupakan bagian dari apresiasi film, baik menurut Undang Undang Perfilman maupun dalam kenyatannya.

Diharapkan Maman, ke depan apa yang disuguhkan dan dibahas dalam workshop ini akan memberi bekal yang lebih komprehensif dalam melakukan kritik dan non kritik. Pada gilirannya kritik dan tulisan artkel film oleh wartawan melalui medianya memberikan kontribusi yang strategis bagi kemajuan perfilman nasional.

Untuk memperluas dan mempertajam wawasan wartawan mengenai penulisan kritik dan non krtik film dihadirkan nara sumber di antaranya Tommy F. Awuy, Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Sutaradara Dedi Setiadi, wartawan senior Wina Armada SA, produser film Zairin Zein, penulis skenario senior Aang Jasman dan lainnya.

Kesemua nara sumber memberikan paparan dan pandangan dari sudut ilmunya masing-masing. Mulai dari apa dan bagaimana kritik yang dipaparkan Tommy F. Awuy, beberapa teori mengenai kritik film juga disampaikan oleh Wina Armada, dan apa dan bagaimana sebuah desain produksi film itu dibuat dipaparkan oleh Zairin Zein dengan gamblang.

Berbekal tambahan pengetahuan itu, kritik film tidak lagi hanya sebagai pemanis di peta perfilman tetapi memberikan pencerahan bagi para penonton film nasional, terlebih kepada para produser untuk terus meningkatkan kualitas produksi  filmnya. Jadi, kritik dan penulisan artikel mengulas film tidak asma (asal mangap).

Dan, produser film seperti Chand Parwez, Djony Syafruddin sebagai pengusaha bioskop bergembira melihat penonton keluar dari bioskop menyanyikan “Aku cinta engkau cinta film Indonesia…..!”

[PF/Didang P.Sasmita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here