Jelang Hari Film, Parwez Harapkan Pemerintah Lebih Peduli dan Optimisme Starvision

0
1

 

POSFILM.COM – Di kancah perfilman nasional, nama Ir.Chand Parwez Servia, cukup diperhitungkan. Bersama perusahaan film yang dipimpinnya Kharisma Starvision Plus, setiap tahunnya paling sedikit memperoduksi tujuh hingga delapan judul film cerita. Berbagai genre film cerita diproduksinya, sebagian besar menjadi trendsetter dan mewarnai film-film yang tayang di bioskop Tanah Air. Berikut wawancara posfilm.com dengan Parwez di ruang kerjanya sehubungan dengan Hari Film Nasional yang akan jatuh pada tanggal 30 Maret nanti.

 

Di tahun 2016 ini, setelah memproduksi dan menayangkan film “Ngenes” dan film “Jagoan Instan” pada akhir Maret mendatang, Parwez sudah mempersiapkan film berjudul “Raksasa dari Jogja”. Beberapa judul film cerita sedang dipersiapkan di antaranya “Faboulus Udin”, dan pembuatan film yang melibatkan Raditia Dika  serta Coboy Junior.

”Karena di industri film inilah kami berusaha, maka kami selalu menyangga dengan kreatifitas dan segala usaha kami agar industri film tidak runtuh,” ujar sosok pekerja keras dan ramah ini saat ditemui di kantornya di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat,11 Maret.

Sebagai pribadi dan Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (APFI), ia mengharapkan kehadiran pemerintah dengan perangkat aturan dan kebijakannya untuk bisa membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas film nasional.”Seperti keluarnya usaha perfilman dari Daftar Negatif Investasi (DNI), saya bukannya mau menolak, tapi pemerintah semestinya menyiapkan perangkat aturan mainnya, agar industri film dan sdm yang terlibat di dalamnya bisa bersaing dengan sehat.

Karena nantinya film Indonesia bisa diproduksi oleh orang asing dan meraka juga memiliki bioskop. Nah, kami mengharapkan di sini ada kehadiran pemerintah  sebagai regulator di perfilman untuk bijak agar industri perfilman  nasional bisa bersaing dan selalu maju dari waktu-waktu, ”ungkap Parwez mengkritisi.

Parwez yang sudah puluhan tahun dan lebih dari seribu judul film dan sinetronnya menjadi hiburan yang diandalkan penonton film dan sinetron Indonesia ini, secara lugas seprtinya kehadiran industri film nasional dianggap antara ada dan tiada oleh pemerintah. “Padahal darindustri film ini  memberi kontribusi pemasukan pajak negara, seperti pajak tontonan, pajak penghasilan, pajak  royalti, dan pajak pajak lainnya. Juga memberi kontribusi dalam membuka lapangan kerja,” tegas Parwez.

Karena kurangnya peran pemerintah dalam industri perfilman, Parwez terkadang malu bila datang ke undangan acara festival film di manca negara. Film–film Indonesia kalah oleh negara-negara yang baru saja mengenal industri film.”Kita punya sejarah panjang sejak tahun 1926, tapi lihat bagaimana wajah perfilman kita. Di ajang Oscar, misalnya, kita masih kalah dengan negara yang belum lama mengenal industri film,” imbuhnya.

Meski begitu Parwez tak mati “semangat” harapnya kepada pemerintah agar ke depannya industri film ini mendapat perhatian yang lebih baik. Karena selain sebagai industri, bagi Pawez, juga sebagai produk budaya, dan bisa  menjadi medium untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional baik dari aspek budaya kita yang kaya dan beragam, juga potensi pariwisata yang dimiliki Indonesia.

Tentang kondisi perfilman di tahun 2016, Parwez optimis penontonnya akan lebih baik dibandingkan tahun kemarin. Dengan adanya film-film yang berkualitas lebih banyak dan disukai oleh penonton akan menggairahkan industri perfilman. Karena tahun lalu membuat Parwez geram.”Tahun lalu itu banyak film yang dibuat dengan format dan biaya FTV tapi tayang di bioskop.

Ini merupakan investasi yang buruk buat kemajuan film nasional. Bila kondisi ini tidak diperbaiki maka film nasional akan ditinggal penonton,” katanya masih dengan nada geram.

Konsekuensi dari adanya gairah tersebut Parwez selaku pelaku industri di industri film dan Ketua APFI harus memanfaatkan momentum ini agar lebih keratif dan inovatif dalam memilah dan memilih cerita dan dengan budget yang juga akan lebih besar.

”Penonton sudah bisa memilah film yang baik dan tidak baik untuk ditonton. Nah, kami selaku produser harus memberikan yang terbaik untuk penonton. Dan, saya optimis perfilman nasional lebih bergairah dibandingkan tahun lalu,”tukasnya mengakhiri percakapan. (didang/pf)

 

Baca juga : http://posfilm.com/film-indonesia-menjamur-namun-tidak-diminati-penonton-2/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here