Film “Stadhuis Schandaal” Tanda Karya Adisurya Abdy Kembali Mentas

0
77

Staduis Schandaal, sebuah film dengan setting pada kurun waktu tertentu, membutuhkan konsep artistik yang menggambarkan situasi dan kondisi saat peristiwa terjadi.  Dibangunlah set khusus di atas tanah seluas 1.500 m2 di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

POSFILM.COM – Empat belas tahun bukan waktu yang sebentar dalam sebuah perjalanan berkarya dalam produksi film. Itu yang dijalani oleh sineas Adisurya Abdy, menghilang dari layar utama, berkutat di belakang layar; membangunkan kembali Festval Film Indonesia, membuat Usmar Ismail Awards, dan mengelola manajemen Sinematek.

“Sudah saatnya saya turun gunung lagi,” selorohnya ketika persiapan produksi film Staduis Schandaal, yang dia konsepkan sejak lama.  Ceritanya memang menarik dan menyentuh kata unik.

Film Staduis Schandaal  bercerita tentang FEI, seorang mahasiswi Ilmu Budaya Universitas Indonesia sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia bersama teman kuliah yang lainnya. Saat ia mencari bahan dan riset tentang itu di kota tua, ia diperhatikan oleh seorang gadis cantik turunan Belanda – Jepang yang kemudian kita kenal dengan nama SAARTJE SPECX dipanggil SARAH.

Sosok SARAH kemudian menghilang dari pandangan FEI manakala dering iphone membuyarkan perhatian FEI akan sosok Sarah itu. FEI bertanya kemudian apakah temannya ada yang melihat SARAH? Namun temannya menjawab tidak.

Pertemuan antara FEI dan SARAH itu membuat FEI tidak dapat menghilangkan pertanyaan dalam fikirannya akan apa dan siapa sosok perempuan muda cantik yangmemperhatikannya di Gedung Fatahillah yang dahulu bernama Stadhuis itu.

FEI meiliki pacar bernama  CHIKO yang posesive. Hubungan FEI dan CHIKO sedang berada pada titik terendah, karena Chiko ingin seutuhnya menguasai serta mengatur FEI. Hal itu membuat FEI menjadi terganggu dan terbebani.  Perlahan tapi pasti rasa cinta dan sayangnya terhadap CHIKO mulai memudar, namun CHIKO tidak ingin kehilangan FEI.

Dengan senyum yang lembut tulus memikat, SARAH lalu menyentuh bagian dada FEI, dan seketika masa kini beralih kemasa lalu, persisnya Fei dibawa oleh Sarah menembus lorong waktu menuju Batavia pada tahun 1628.

Cerita dan skenario ditulis sendiri oleh Adisurya Abdy. Film ini diproduksi oleh PT. Xela Film, dengan produser Omar Jusma.

Film yang akan segera syuting ini menampilkan perpaduan pemain senior dan wajah baru di pentas perfilman Indonedia di antaranya: Tara Adia (Saartje Spech / Sarah), Michale Lee (Pieter Cortenhoff), Amanda Rigbi (Fei), Rensi Millano (Samina), Volland Humonggo (Danny Wong), George M Taka (JP Coen), Roweina Umboh (Eva Mert), Iwan Burnani (Jaques Spech), Septian Dwicahyo (Hans), Lady Salsabila (Mila), Stephanie Adi (Rika), Ati Cancer (Bibi), Bangkit Sanjaya (Pelayan  misterius), Kiki Amalia (Via), Anwar Fuadi (Abimanyu).

Staduis Schandaal, sebuah film dengan setting pada kurun waktu tertentu, membutuhkan konsep artistik yang menggambarkan situasi dan kondisi saat peristiwa terjadi.  Untuk menggambarkan setting yang dibutuhkan, tidak semudah mewujudkan cerita di dalam tulisan, perlu perwujudaan fisik yang dibuat sesuai dengan konteks cerita.

Set khusus itu dibangun di atas tanah seluas 1.500 m2 di atas tanah milik PT. Inter Studio, di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Kita sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kita lakukan, jadi lebih baik membamgun set sendiri, supaya kerjanya lebih bebas,” kata Adisurya Abdy.

Selain syuting di set yang dibuat khusus, film ini juga akan melakukan pengambilan gambar di kawasan Kota Tua Jakarta, terutama di  Musium Fatahillah. Ada dua kurun waktu yang akan ditampilkan dalam film terbaru karya Adisurya Abdy ini, yakni setting jaman kolonial dan kekinian (modern). [PF /Didang P.Sasmita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here