Film ‘Keira’, Kepribadian Ganda dan Pembunuhan Demi Pesugihan

Angelica Simperler berperan sebagai Keira, perempuan dengan tujuh kepribadian

POSFILM.COM Film dibuka dengan adegan di pesisir pantai. Seorang lelaki tua tengah mengecat mainan anak anak. Datang seorang wanita muda dan cantik, menghampiri lelaki tadi. Betapa senangnya wanita itu karena diberi mainan yang dia sukai. Beberapa saat, lelaki menjadi kejam. Mengambil batu dan menghantam kan ke kepala. Adegan itu disaksikan. Terhuyung dan wanita itu pun mati.

Tak dinyana, dari belakang seseorang menghujamkan pisau tajam ke bagian leher belakang, lelaki tua itu pun tersungkur, mati.

Yan Wijaya, kesehariannya berprofesi wartawan, dan pengamat film berperan sebagai lelaki yang mengorbankan siapa saja demi pesugihan.

“Meski akrab dengan sutradara film Keira, Harry Dagoe Suharyadi, saya juga digasting,” ujar Yan Wijaya yang beberapa kali main film ini.

Film Keira menceritakan seorang wanita yang memiliki tujuh kepribadian. Dikarenakan pengalamannya di masa kecil menyaksikan kekerasan dan pembunuhan.

Artis Angelica Simperler berperan sebagai Keira perempuan dengan tujuh kepribadian,  artis Angelica Simperler yang bermain sebagai Keira menyempatkan diri untuk melakukan konsultasi dengan seorang ahli kejiwaan atau psikolog.

“Karena aku belum punya pengalaman apa, aku kan awam soal (kepribadian ganda) ini. Cari-cari referensi. Aku nyari sendiri, nyari-nyari psikolog,” ujar aktris yang telah membintangi sejumlah sinema elektronik dan film layar lebar itu.

KEIRA (2018)_Angelica Simperler_foto Didang_1d_pj

Film produksi Tujuh Rumah Produksi serta disutradarai Harry Dagoe Suharyadi yang menceritakan seorang gadis yang memiliki tujuh kepribadian tersebut selain dibintangi Angelica Simperler juga  sejumlah artis lain yakni Ray Sahetapy, Rocky Jeff, Djenar Maesa Ayu, Ferly Putra serta Erlando Saputra. Film ini mengambil lokasi pengambilan gambar di Lampung.

Angelica menuturkan,  dia hanya sehari, bahkan hanya dalam dua jam  melakukan konsultasi dengan psikolog, sehingga tidak terlalu banyak referensi yang didapatkannya untuk menggali sisi kejiwaan seseorang yang memiliki kepribadian ganda.

“Aku dapat dasar-dasarnya aja, faktornya kenapa. Secara (sekilas) gambarannya seperti apa (pemilik kepribadian ganda),” ujar bintang “8 Hari Menaklukkan Cowok”, “Bajaj Bajuri The Movie” dan “Slank Nggak Ada Matinya” itu.

Bagi gadis kelahiran 9 Juli 1986  itu terpilih untuk memerankan seorang dengan gangguan kejiwaan atau psikopat merupakan hal yang diidam-idamkannya dari dulu sehingga bermain sebagai “Keira” merupakan tanggung jawab besar terlebih lagi dia merasakan persiapannya kurang.

“Keira punya masa lalu yang traumatik. gelap banget. bapaknya membunuh dengan cara yang brutal sehingga  Keira terganggu kejiwaannya, tidak punya teman. Keira lemah tapi ada sisi lain dirinya yang lebih berani menghadapi masalah,” ujarnya sedikit menceritakan film yang akan tayang di bioskop Tanah Air mulai 15 November mendatang.

“Film ini bener- bener unik, banyak elemennya. Ini film yang cerdas. Penonton akan tertarik untuk menonton sesuatu yang bener-bener berbeda dari yang ada selama ini,” kata alumni sebuah perguruan tinggi jurusan marketing itu.

Dia mengakui memerankan karakter kepribadian ganda sangat sulit, namun demikian Angelica tidak kapok jika mendapatkan peran serupa untuk film-film selanjutnya.

KEIRA (2018)_foto Didang_2b_pj

Dalam film yang berdurasi selama 90 menit ini tidak melulu menampilkan adegan kekerasan dan keseraman. Wajah panorama provinsi Lampung dengan laut dan pantai yang indah tersaji dalam film Keira.

“Saya bahagia karena mampu menjadi sutradara dalam film Keira. Ini sangat spesial bagi saya, karena mampu mengangkat konten lokal dan kearifan lokal Lampung di tingkat nasional, bahkan seluruh dunia,” ujar Harry.

Aktor Ray Sahetapy berharap film Keira mampu bermanfaat bagi penonton film di Indonesia karena menyuguhkan cerita dan nuansa baru di tengah genre horor membanjiri perfilman Indonesia.

“Semoga film Keira membawa angin segar memberikan alternatif tontonan film bagi pecinta film nasional,” pungkas Ray Sahetapy.  [PF/ Didang P. Sasmita]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *