Chand Parwez Servia: Buat Film yang Bagus, Selanjutnya Serahkan Kepada Panonton

POSFILM.COM – Industri hiburan, khususnya film bergerak positif dua tahun belakangan ini. Jumlah penonton yang berkunjung ke bioskop kian meningkat. Hal ini dikarenakan flm-film yang diproduksi setiap tahunnya secara kualitas sebanding lurus dengan ekspektasi penonton film nasional.

“Jumlah penonton dari tahun 2015 meningkat. Begitu juga dengan jumlah penonton tahun ini lebih banyak dari tahun sebelumnya. Ini adalah trend positif bagi kami untuk terus mencari cerita dan mengemasnya menjadi tontonan menarik,” demikian dikatakan Chand Parwes Servia, kepada Posfilm.com, beberapa waktu lalu.

Khususnya bagi Starvision menjadi trade mark untuk film-film yang berkualitas, setiap produksinya selalu meningkatkan biaya produksi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa produksi yang bagus membutuhkan biaya yang cukup besar.

”Saya yang sudah cukup lama puluhan tahun di produksi film, tidak lagi berada di area coba-coba dalam produksi film dengan perhitungan untung rugi di depan. Berdasarkan pengalaman, penonton sekarang cukup pandai melihat film mana yang harus ditonton. Kalau film bagus pasti ada penontonnya. Memang ada risiko, ya, namanya usaha kalau enggak untung ya rugi. Tapi niat dan usahanya dulu membuat film yang bagus,” kata Parwez yang segera meluncurkan film berjudul Hujan di Bulan Juni, diangkat dari novel karya penyair Sapardi Djoko Damono dan film biografi Buya Hamka.

Namun demikian, penonton harus diberi pilihan genre atau jenis–jenis cerita film yang bervariasi.

”Kemarin saya buat film berjudul Sweet 20, drama keluarga dengan gimmick ada lagu-lagu yang dibuatkan juga teksnya agar penonton bisa ikutan bernyanyi. Nah, sekarang beredar Ten soal perjuangan anak muda yang cinta tanah air. Kemudian disusul dengan film Underdogs, komedi dan remaja kreatif di era digital dengan menampilkan media you tube,” tutur Parwez.

Variasi tontonan itu agar masyarakat penonton film nasional mendapatkan beragam cerita. ”Peluang sekarang cinta penonton film nasional yang semakin meningkat, harus disuguhi tontonan yang berkualitas,” tegas Parwez lagi.

Parwez yang juga Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia (APFI), dan Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Indonesia (BPI), meyakini bahwa sekarang ini persaingan antar produser film semakin ketat namun sehat.

”Dengan persaingan itulah bagaimana membuat film sebagus dan sebaik mungkin, meskipun bagus dan baik itu sangat dipengaruhi pandangan subyektifitas produser. Dan tidak ada pola yang jelas dan benar mengenai film yang bagus dan kemudian dikunjungi banyak penonton,” ujar Parwez.

”Memang tidak ada pola yang jelas tentang film yang bagus dan laku, di situlah justru menariknya. Kalau Stravision berprinsip buat film kualitas bagus, selanjutnya serahkan kepada penonton. Alhmadulilahnya, film-film produksi Starvision sudah akrab di mata hati penonton bahwa film-film produksi kami sudh dikenal memuaskan harapan penonton film nasiona,” tegas Parwez. [PF/Didang P.Sasmita]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *