Chand Parwez: Saatnya Produser Membuat Film yang Mendekat Keselera Penonton

0
50

Film nasional, nantinya, tidak saja menjadi kebanggaan penonton dalam negeri tetapi juga menjadi konsumsi hiburan masyarakat belahan dunia lainnya. Dan akhirnya, film nasional juga akan menjadi komoditas andalan ekspor yang memasukkan devisa bagi Negara. (Chand Parwez Servia)

POSFILM.COM – Gegap gempita sambutan penonton film berjudul Dilan 1990, di awal tahun 2018,  menandai kian dekatnya penonton film terhadap film nasional. Dan, ini sekaligus memperkuat dugaan bahwa sepanjang tahun ini, penonton film nasional bisa mencapai 50 juta penonton.

Ada penambahan sekitar 10 juta penonton dari tahun 2017, yang mencapai angka 40 juta kepala menyaksikan film nasional.

Merasakan kondisi yang bagus ini dirasakan oleh produser film nasional Chand Parwez Servia. Namun dia juga mewanti-wanti agar kondisi ini tetap terjaga dengan baik, yakni diperlukan kreatifitas yang tinggi dari insan perfilman nasional unuk melahirkan karya-karya film yang dekat dengan selera penonton.

“Memang tidak mudah, tetapi harus ada niat baik dulu membuat film yang bagus. Standar film yang bagus dari aspek cerita, pemain, sutradara dan juga variasi genre yang diproduksi,” demikian Parwez.

”Ibarat taman yang kini sedang indah jangan sampai dirusak lagi,” imbuhnya.

Kemajuan film nasional sangat dirasakan oleh produser film yang pernah belajar di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini dalam dua tahun terakhir. Pertumbuhannya sangat menggembirakan. Pada tahun 2016 beredar 124 judul film dengan perolehan penonton 37,2 juta penonton.

Peningkatan terasa pada tahun 2017, dengan 119 judul film yang beredar bisa menggiring penonton sekitar 42,7 juta.

Kondisi pencapaian film nasional tahun 2017 itu, menempatkan Indonesia dalamurutan ke-8 eksistensi pencapaian film lokal dibanding dengan film impor dari Amerika (Hollywood). Berikut data dari German Film Market Share tahun 2016.

Amerika Serikat 93,6 %, Jepang 63,1%, China 58,3%, Korea Selatan 53,7%, Turki 53,4%, Argentina 37,2%, Prancis 35,8%, Indonesia 35% (Berdasarkan data 2017, dan data ini belum mengutip India juga Iran).

“Keberadaan market share film lokalnya dalam posisi 10 besar, ini fakta bahwa perfilman Indonesia sedang tumbuh sehat,” jelasParwez.

Kedepan, Parwez berharap, dengan adanya peningkatan penonton film nasional dari tahun ketahun akan menarik eksibitor untuk mengembangkan jaringan bioskopnya kewilayah baru yang merupakan captive market film Indonesia.

Sebagai Kepala Badan Perfilman Indonesia (BPI), dalam setiap pertemuan dengan kalangan perfilman, Parwez selalu menghimbau agar para produser film membuat film yang baik. Mulai dari cerita, pemain, sutradara serta pelengkap pendukung lainnya.

”Kalau tidak dirawat kondisi ini dengan membuat film yang baik, akan rusak dan susah mengembalikan kepercayaan penonton film terhadap film nasional,” papar Parwez yang segera meluncurkan film terbarunya berjudul YOWIS BEN.

Dalam pandangan Parwez ada empat stakeholder terdepan dalam meningkatkan jumlah penonton film Indonesia : pemerintah sebagai regulator, produser film, pengelola bioskop, dan penonton film.

“Pemerintah melalui Pusbang Film, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai regulator, melalui kebijakannya telah menciptakan kondisi yang kondusif bagi kemajuan perfilman nasional. Sebagai orang yang bergerak di bidang usaha perfilman saya bangga terhadap bapak Muhajir Effendi,” ungkap Parwez.

Bila kondisi usaha yang sedang baik ini terus dijaga, dan pemerintah sudah memberikan kebijakan yang bagus, saatnya produser membuat film yang mendekat keselera penonton. Memang tidak mudah untuk mencapai, apa dan bagaimana keinginan penonton.

”Tetapi  yang kami lakukan di Starvision adalalah memberikan beberapa genre cerita. Itu saja tidak cukup. Pilihan pemain dan sutradara, editor juga mempengaruhi kualitas sebuah film,” lanjut Parwez.

Penonton makin banyak terserap, kemudian dunia melihat perfilman Indonesia yang maju, tentunya akan melihat. ”Hal ini akan menarik perhatian masyarakat perfilman dunia, dan mereka tertarik membeli film-film Indonesia,” kata Pawez lagi.

Film nasional,nantinya, tidak saja menjadi kebanggaan penonton dalam negeri tetapi juga menjadi konsumsi hiburan masyarakat belahan dunia lainnya. Dan akhirnya, kedapan film nasional juga akan menjadi komoditas andalan ekspor yang memasukkan devisa bagi Negara. [PF /Didang P. Sasmita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here