Boven Digoel, Perjuangan Dokter di Pedalaman Papua

0
8

POSFILM.COM – Boven Digoel, film arahan sutradara FX Purnomo ini berlatar kearifan lokal Papua yang mengangkat kisah nyata dokter yang menantang kondisi melakukan operasi sesar dengan silet di belantara Digoel, Papua sekitar tahun 1990-an.

Saat jumpa wartawan di kawasan Kuningan, Jakarta, Senin (6/2/2017), FX Purnomo yang akrab disapa Ipong Wijaya ini membeberkan tantangan dalam proses syuting-nya, yaitu kondisi alam Papua yang cukup susah untuk dijangkau.

“Team Produksi Film ‘Boven Digoel’ melakukan perjalanan dari kabupaten Merauke ke kabupaten Boven Digoel yang ditempuh dengan perjalanan darat selama 10 jam. Lokasi syuting-nya menggunakan set artistik yang riil dengan tempat kejadian di tahun 90-an, yaitu berupa puskesmas yang dulu digunakan untuk operasi sesar menggunakan silet,” paparnya.

Menurut Ipong, syuting film “Boven Digoel” dilakukan di Kampung Yahim Sentani, Danau Love Yoka Abepura, Bandara Ama Sentani, Pelabuhan Jayapura, Kampung Netar Sentani, Pantai Kelapa Satu Merauke, Tanah Merah Boven Digoel, Kampung Ampera Boven Digoel, Hutan Wet Boven Digoel dan Pelabuhan Boven Digoel. “Syutingnya dilakukan selama kurang lebih 20 hari, “ ungkapnya penuh semangat.
Film pertama produksi PH asli Papua yakni Foromoko Matoa Indah Film ini dibintangi pemain dari timur Indonesia sepeti Maria Fransisca, Putri Papua 2013 dan Finalis Putri Indonesia 2014 perwakilan Papua yang kini menjadi Duta Humas Polda Papua dan Duta Pemberantasan Narkoba Papua.

Maria berharap film ini bisa menjadi pelajaran kita semua. “Banyak orang menilai operasi sesar dengan silet itu mustahil, tapi begitulah kenyataan yang terjadi di Boven Digoel Papua karena keterbatasan tenaga dan peralatan medis, “ ungkap Maria kelahiran Papua, 11 oktober l995 yang kini masih jadi mahasiswi Teknik Planologi Universitas Cendrawasih Papua.

Ellen Aragay, peraih Runner Up Miss Indonesia 2014 dan mendapat spesial awad Miss Congeniality. Sebelumnya, ia menjadi atlet basket internasional asal Papua, yang pernah membawa tim Indonesia meraih urutan ke 6 di pertandingan basket Asean di Vietnam tahun 2007. Ia menempuh pendidikan teologi di Amerika.

Lala Suwages, penyanyi R&B dan jazz terkenal kelahiran Jayapura, Papua, 15 November 1980. Ia melakukan debut professional tahun 2003, saat bergabung dengan group vocal Tabitha’s Friends. Ia pernah meraih penghargaan Major of Almaty Prize Winner Voice of Asia dari festival International di Kazakhstan.

Film ini juga dibintangi aktris senior Christine Hakim yang mengaku terlibat dalam film ini karena temanya sangat menarik mengenai seorang dokter yang mengabdikan diri di Boven Digoel Papua. “Ini tema yang nggak mungkin saya bisa tolak. Apalagi visi, misi, dan semangatnya sejalan. Jadi, saya sangat senang sekali terlibat dalam film ini,” ungkapnya.

Aktris senior kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956 ini ingin mengenalkan kepada masyarakat, bahwa Papua pun memiliki potensi besar dalam dunia perfilman. “Ini bisa dibilang film pertama produksi asli Papua. Saat syuting film ini saya tak mengira kalau putra-putri asal Papua mempunyai kemampuan akting yang bagus dan sangat natural sekali. Mereka cepat sekali menghapal dialog dan cepat beradaptasi dalam produksi film. Mereka memang punya talenta dan sangat berbakat,” pujinya.

Dalam film ini, Christine berperan sebagai ibu dari seorang dokter yang memiliki kesan tersendiri, bahkan tak habis-habisnya ia memuji keindahan pulau Papua yang terletak di ujung timur Indonesia. “Saya kira yang sudah pernah ke Papua pasti sangat mencintai pulau yang luar biasa ini, keindahannya, kekayaannya, budayanya, masyarakatnya,” pungkasnya.

Film ini mengangkat kisah John Manangsang sebagai pelaku sejarah 25 tahun lalu. Fakta membuktikan dari 25 tahun lalu dengan tahun sekarang, bahwa di Papua angka kematian ibu dan bayi sekarang masih tinggi dan menduduki rangking nomer satu di Indonesia.

“Memang kisah nyata dalam buku yang diangkat jadi film ini menceritakan pergumulan dan perjuangan dokter muda yang ditempatkan di puskesmas pedalaman Papua, yang berupaya menyelamatkan dua nyawa, yakni ibu dan bayinya. Pertaruhan yang luar biasa. Bukan hanya hidup mati pada pasiennya, tapi juga hidup mati dokternya karena kondisi hutan dengan tidak ada bius untuk operasi, peralatan terbatas, tidak ada tenaga dokter yang memadai jadi melakukan operasi sesar dengan memakai silet,” kenangnya

boven-digoel

Sinopsis
Dokter John Manangsang (Joshua Matulessy), yang bertugas di salah satu puskesmas di Tanah Merah, Boven Digoel, Ia bersama stafnya harus melakukan operasi sesar terhadap Agustina, yang telah melahirkan sembilan kali.

Tragisnya, Puskesmas Tanah Merah tidak mempunyai sarana dan tenaga kesehatan yang memadai untuk operasi ini. John memerintahkan Bidan Anthoneta dan Suster Lidia untuk pergi ke Perum Telkom guna melakukan sterilisasi alat-alat operasi, karena listrik di Puskesmas baru menyala malam hari. Suster Ancelina ditugaskan menyiapkan kamar ruang operasi.

John sendiri harus pergi ke gudang penyimpanan obat di susteran. Sesampai di gudang, John diberitahu bahwa pintu terkunci, dan kunci dibawa oleh suster ke Merauke. Setelah mengambil cairan obat bius di rumahnya yang berjarak satu kilometer dari puskesmas dengan berjalan kaki.

Ketika tiba di puskesmas, Mantri Thomas memberitahu kalau pisau operasi sudah habis. John lalu memberikan uang seratus ribu rupiah untuk membeli silet. Bidan Anthoneta dan Suster Lidia disuruh merebus alat-alat operasi dengan menggunakan kayu bakar. Tepat pukul 10.10 WIT, operasi sesar terhadap Ibu Agustina dilaksanakan dengan silet.

Film yang tayang pada Kamis, 9 Februari ini diadaptasi dari buku kisah nyata berjudul ‘Catatan Seorang Dokter dari Belantara Boven Digoel’ karya John Manangsang. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here