Yahudi Kristen dan Islam Bersatu di Tempat Ali

Muhammad Ali-pemakaman 1

(Ditulis Oleh : Mike Wangge)

 

POSFILM.COM, Jakarta – Hingga berita ini diturunkan pada hari Jumat 10 Juni 2016, kurang lebih 14.000 orang dari berbagai keyakinan baik Jahudi Islam maupun Kristen masih terus berdatangan ke tempat kediaman, Muhammad Ali, di Louisvile untuk melayat petinju yang namanya paling hebat sejagat ini. Demikian laporan Kantor Berita Inggris Reuters dari kediaman Muhammad Ali di Louisvile, Kentucky, Amerika Serikat.

Legenda tinju dunia ini meninggal pada hari Jumat waktu setempat atau Sabtu, 4 Juni dini hari WIB. Ia meninggal pada usia 74 tahun, setelah 33 tahun menderita parkinson, dan tiga tahun terakhir menderita sesak napas akut.

Menurut Reuter, Ali sendiri yang merencanakan agar di hari kematiannya, harus dibuatkan undangan secara gratis dari semua golongan keyakinan, dan juga strata sesosial. Ternyata tanpa pesan Muhammad Ali pun pelayat yang datang sejak kematiannya hingga hari pemakamannya pada pukul 12.00 waktu setempat belasan ribu orang datang dari berbagai kalangan, dan keyaninan termasuk dari Jahudi, Kristen, Islam, Budha, dan agama-agama lainnya.

Presiden Amerika Barack Obama datang melayat dan sebelumnya sempat menyatakan bahwa Ali adalah orang besar dari Amerika. Pada waktu melayat di rumahnya, salah satu tokoh muslim Amerika Muhammad Babar menyampaikan rasa dukanya dengan mengatakan demikian: “Dari lubuk hatiku yang terdalam saya ketahui bahwa anda, Muhammad Ali, sedang tersenyum di surga bersama Nabi Muhammad, Yesus,  Musa dan semua orang suci dalam keabadian cinta Tuhan. Bagaimanapun engkau  adalah duta bagi umat Islam”.

Berbeda dengan Muhammad Babar, salah seorang dari anggota komunitas Jahudi-Kristen yang juga turut dalam layatan hari itu, termasuk dari Gereja Baptis mengatakan Muhammad Ali adalah seorang pekerja dengan kelimpahan mujizad di atas ring tinju dunia.

Mujizad itu ada khususnya pada saat ia menggunakan kepalan tangannya  untuk memukul lawan-lawannya. Namun itu bukanlah kekerasan dan dosa. Itu adalah kesempurnaan yang ada padanya yang ia berikan untuk kebaikan bagi dunia. Ia  membuat seluruh dunia merasa terhibur oleh pukulan tangannya dan dunia tak pernah habis membicarakan tentang kehebatannya yang terjadi di atas ring tinju ini.

 

Muhammad Ali-pemakaman 2

 

Ali memang petinju yang bila membicarakan tentangnya kisahnya seperti tak pernah habis di bahas. Dia adalah petinju besar yang belum ada tandingannya.

Mengawali kariernya dengan merebut medali emas Olimpiade Roma tahun 1960. Namanya semakin tenar setelah ia mengalahkan Sonny Liston 1964. Ia disebut sebagai petinju bermulut besar, karena lewat mulutnya ia menggantikan tangan kanannya untuk memukul lawan-lawannya.

Sonny Liston termasuk salah satu petinju yang dikalahkan dengan mulutnya. Ia berkampanye ke berbagai sasana tinju, mendatangi sasana tinju Sonny Liston dan menantang berkelahi dengannya di jalan di depan publik Sonny Liston. Padahal, saat itu orang masih menganggap Sonny Liston sangat hebat. Belum ada lawan bisa mengalahkannya.

Buktisnya Ali bisa menumbangkan Liston dua kali, dan kali kedua Listosn tidak bisa bertinju lagi untuk selamanya. Katanya, Sonny pensiun karena tersengat pukulan telak kupu-kupu Ali.

Setelah itu tiga kali ia dipertemukan dengan Joe Frazier, melawan George Foreman, dan terakhir sebelum pensiun ia bertanding melawan mantan sparing partnernya, Larry Holmes 1980. Ali kalah. Tiga tahun kemudian ia terserang parkinson hingga wafanya Sabtu 5 Juni 2016.

Saya memberi judul tulisan ini : “Jahudi Kristen  dan Islam Bersatu di Tempat Ali”  dengan maksud untuk menyatakan bahwa Ali tidak pernah membedakan antar-manusia karena keyakinan tetapi ia amat marah kalau antar-manusia terjadi penindasan dan ketidakadilan utamanya antara negara dan rakyat.

Buktinya, Muhammad Ali menentang kebijakan negara (Amerika Serikat) yang  membiarkan parlakuan tidak adil orang kulit putih terhadap kaum kulit hitam atau kulit berwarna di Amerika hingga tahun 1960-an sampai  ia dipenjara karena menolak wajib militer.

Ali termasuk menjadi saksi mata atas rupa-rupa perlakuan ras putih terhadap ras hitam di Amerika  tahun tahun itu. Beberapa di antaranya  adalah peristiwa pembunuhan terhadap beberapa temannya oleh orang kulit putih.  Ali  menyaksikan sendiri temannya, Emmett Till, seorang  pemuda kulit hitam dibunuh di Mississippi karena menyuiti seorang wanita kulit putih.

“Emmet itu seumur dengan saya. Mereka menangkap beberapa pelaku pembunuhnya orang kulit putih, tetapi tidak diapa-apakan, lalu  dilepas kembali. Kejadian seperti ini berulang terus menerus. Dalam hidup saya, tidak semua  tempat-tempat  bisa  saya masuk, dan di  tempat itu saya tidak boleh makan. Saya merebut medali emas Olimpiade Roma 1960 untuk Amerika Serikat . Akan tetapi ketika saya pulang ke Louisville,  saya tetap diperlakukan sebagai Negro. Sejumlah restoran tak mau melayani saya. Beberapa orang tetap memanggil saya boy. Apa ini?” jelas Ali.

Di tengah kegalauan berpikir tentang nasib orang kulit hitam termasuk dirinya, Ali pada usianya 17 tahun,  secara tak sengaja,  bertemu dengan tokoh muslim dari Nastion of Islam, Elijah Muhammad. Itu terjadi tahun 1959 setahun sebelum ia merebut medali emas Olimpiade Roma1960. Ali tertarik dengan pidato atau kotbah Elijah Muhammad, pemimpin Nation of Islam ini. Dia senang karena apa yang disuarakan oleh Elijah Muhammad sama dengan suara hatinya. Elijah Muhammad mengatakan tentang kebangkitan orang-orang kulit hitam, tentang keharusan menentang orang kulit putih.

Mata Ali tampak nanar ke atas langit ketika mendengar kotbah-kotbah itu. Ia masih beragama Baptis seperti juga kedua orang tuanya.

Sejak saat itulah Ali, yang masih menyandang nama lamanya Casius Clay, berpikir tentang kehebatan Elijah Muhammad, dan kebangkitan orang kulit hitam seperti dirinya. Bisakah mimpinya itu jadi kenyataanya?  Itulah yang membuat Ali berteriak teriak  dan ia wujudkan semuanya di atas ring tinjunya. “Saya harus berteriak dengan mulut saya, agar semua orang bisa mendengar tentang apa yang bisa, dan baik dari saya. Tentang perpindahan agamanya  ia mengatakan demikian, sebagaimana ditulis oleh Majalah Tempo tahun 1992 : demikian :

“Ibuku seorang Baptis, dan ketika saya besar, ia mengajari segala yang ia ketahui tentang Tuhan. Setiap Minggu, ia mendandani saya, dan membawa saya dan abang saya ke gereja. Ia mengajari kami hal-hal yang dianggapnya benar. Ia mengajari kami supaya mencintai sesama dan memperlakukan siapa pun dengan baik. Ia mengajari kami bahwa berprasangka dan membenci itu salah. Ketika saya beralih agama, Tuhan ibuku tetap Tuhan saya hanya menyebutnya dengan nama yang lain. Dan pandangan tentang ibu saya tetap seperti yang saya katakan jauh sebelumnya. Dia baik, gemuk, perempuan menawan yang suka memasak, makan, menjahit, dan senang berada bersama keluarga. Ia tidak minum, merokok, dan mencampuri urusan orang, atau menggangu siapa pun. Tak seorang pun lebih baik kepadaku sepanjang hidupku, kecuali dia.”

Sebelum ia memutusan memilih Islam sebagai keyakinannya, untuk beberapa tahun lamanya ia tetap beragama Baptis, tetapi hampir 100 persen sudah mengikuti kegiaan-kegiatan komunitas Nastion of Islam  bersama Elijah Muhammad ini. Hingga akhirnya kelak ia resmi pindah agama.

Selamat jalan Muhammad Ali. Terima kasih engkau menyatukan tiga keyakinan -Jahudi Kristen dan Islam – di rumahmu di Louivile. *** (Reuter/sumber lain/Mike Wangge)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *