Sutradara : “Jihad Selfie Bicara Soal Maskulinitas & Pencarian Jati Diri”

Jihad Selfie-2016

POSFILM.COM – Sebuah film dokumentari bertajuk Jihad Selfie produksi Prasasti Production cukup menggemparkan Indonesia beberapa waktu belakangan ini. Sebab, Jihad Selfie bicara soal fakta perekrutan kelompok radikal atau teroris ISIS (Islamic State in Iraq and Syria). Film karya  Noor Huda Ismail ini, sebelumnya pertama kali diputar di Jenewa.

Namun demikian, sang sutradara punya alasan sendiri kala dirinya menolak film ini dikatakan sebagai penggambaran kota Solo, Jawa Tengah sebagai pusat terorisme.

“Saya tidak menggambarkan Solo sebagai pusat terorisme. Saya mengatakan, aktivitas islami sangat dinamis dibandingkan dengan kegiatan yang lain,” tutur Noor Huda Ismail, dalam diaog dan diskusi film Jihad Selfie, di Balai Muhammadiyah, Solo, Jawa Tengah pada Jumat (29/7/2016), seperti dilansir dari akun youtube Muhammadiyah Solo.

“Karena bagaimanapun juga, sebetulnya permasalahan di Indonesia itu produksi ideologinya ada di Solo, operatornya adalah teman-teman di Lamongan, Jawa Timur, pelatihnya itu ada di Poso, pentasnya di Jakarta, kemudian dibantu beberapa supporting itu dari Sulawesi,” imbuh Noor.

Itu sebab, berangkat dari fakta-fakta yang dijabarkannya, ia ingin menunjukkan bahwa kebanyakan para pelaku terorisme yang ditangkap, mendapatkan perlakukan yang disamaratakan, padahal menurut dia, permasalah teror itu harusnya tak sama rata, namun dijatuhkan hukuman berdasarkan porsi peranannya dalam menciptakan aksi terorisme.

“Dulu, orang terlibat dalam aksi kekerasan itu kan kelompok tertentu, ibaratanya ’empat L’, lu lagi, lu lagi. Clusternya itu-itu saja, enggak jauh. Nah, ketemu sosok Akbar (Teuku Akbar Maulana), itu membuka mata saya.”

Menurut penuturan Noor Huda Ismail, Akbar tak mengerti soal Solo, soal Jihad, bahkan Akbar merupakan seorang hafiz Quran yang juga menjuarai kejuaraan badminton.

“Saya kaget! Ada gelombang itu kesana (lakukan aksi teror) itu, piye? Dan semua orang yang memilih kekerasan itu rata-rata usianya 17 sampai 20 tahunan. Jadi saya ngomong gini, jangan isune isu agama terus. Tapi isu anak muda yang  saya bilang mencari jati diri. Kalo tulisan saya (buku karangannya bertajuk Temanku, Teroris?) disebut itu masalah maskulinitas.”

Noor Huda menambahkan, kala ia mewawancarai Teuku Akbar Maulana, tokoh sentral dari film Jihad Selfie, tak sekalipun Akbar menyatakan alasan keikutsertaanya karena Tuhan Yang Maha Esa.

“Akbar, ketika saya wawancara, enggak pernah satupun mengatakan alasannya karena Allah. ‘Karen kali dia bawa tembak. Itu, jadi anak-anak senang, kan, seragame. Kalau dia anak 17 tahun, membayangkan dan ingin jadi TNI, dia tidak disebut teroris. Cuma, orang selalu mengatakan, orang seperti Akbar ini disebut radikal.”

“Kalau saya itu (mengatakan), ini adalah anak muda yang mencari jati diri. Kebetulan aja dia pakai Allahuakbar, disebut teroris. Padahal, gelombangnya itu sama. (Anak muda) ingin pakai seragam dan juga pakai tembak (senapan). Kira-kira begitu,” tutup Noor.

Seperti dikutip dari Viva, Jihad Selfie adalah film dokumenter yang dibuat secara riil tanpa melalui skenario. Inti dari film ini adalah fakta perekrutan kelompok teroris atau kelompok radikal dalam hal ini ISIS yang kini menggunakan sosial media, seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram dan Skype.

Noor Huda selaku sutradara sekaligus produser membeberkan perekrutan teroris tersebut lewat sosial media dari salah satu remaja 17 Tahun asal Aceh bernama Akbar Maulana yang mendapatkan beasiswa belajar agama di Turki.

Pada 2014, secara tak sengaja, Noor Huda mendapati Akbar yang saat itu di sebuah warung di Turki tengah galau saat melihat foto selfie beberapa temannya asal Indonesia yang bergabung di ISIS tengah memanggul senapan M-16. Akbar pun mulai terpikat dan ingin ikut bergabung ke ISIS.

Dari pertemuan dengan Akbar inilah, Noor Huda yang mencoba menyadarkan dan memulangkan Akbar ke Indonesia. Kemudian mulai dikonsep lah sebuah film dokumenter berjudul Jihad Selfie ini yang baru syuting pada Maret 2015 hingga berakhir pada Juni 2016.

Oleh mahasiswa PhD asal Indonesia ini, semua adegan dalam film berdurasi 49 menit ini adalah murni adegan nyata. Hanya adegan pertemuan dengan Akbar saja yang direka ulang.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *