Sinopsis Film ‘Boven Digoel’ : Ketika Kreativitas dan Rasa Kemanusian Mengalahkan Keterbetasan di Pedalaman Papua

BOVEN DIGOEL-Ddg-PF-06 2016-2

POSFILM.COM –  Film Boven Digoel adalah sebuah film drama Indonesia berlatar belakang budaya dan keindahan alam Papua.

Film arahan sutradara FX Purnomo ini memang kisah nyata dalam buku yang diangkat jadi film, menceritakan pergumulan dan perjuangan dokter muda bernama John Manangsang yang pada tahun ’90 an ditempatkan di puskesmas pedalaman Papua, bertugas di desa Maryam, Tanah Merah, Boven Digoel, dokter muda ini berupaya menyelamatkan dua nyawa, yakni ibu dan bayinya.

Dokter John Manangsang yang sebelumnya menulis buku berjudul Catatan Seorang Dokter dari Belantara Boven Digul.

Film Boven Digoel diproduksi Foromoko Matoa Indah Film dengan arahan sutradara FX Purnomo ini rencananya siap tayang di Hari Kesehatan Nasional yang jatuh pada 12 November mendatang, di seluruh bioskop Tanah Air.

Christine Hakim, Edo Kondologit, Joshua “Jflow” Matulessy, sampai Lala Suwages ikut membintangi film ini.

 

Sinopsis

 

Film Boven Digoel berkisah tentang John (27 tahun), lelaki kelahiran Jayapura, yang berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu puskesmas di pedalaman di wilayah Tanah Merah, Boven Digoel, Papua. Sosoknya yang pintar bergaul, sopan, penuh dedikasi, dan selalu mengutamakan kepentingan orang banyak, serta penuh kesabaran dan tetap teguh dalam pengharapan dalam suka maupun duka dalam segala hal ini, yang membuatnya disukai banyak orang.

 

BOVEN DIGOEL-Ddg-PF-06 2016-3
Pengambilan adegan film Boven Digoel (Silet di Belantara Digoel Papua)-Foromoko Matoa Indah Film

Polemik kemudian muncul, ketika Dokter John dihadapkan sebuah kenyataan, dimana ia bersama stafnya harus melakukan operasi sesar terhadap seorang wanita bernama Ibu Agustina (35 tahun), yang notabene telah melahirkan sebanyak 9 kali.

Tragisnya, Puslesmas Tanah Merah tidak mempunyai sarana yang memadai untuk melakukan operasi sesar ini. Ditambah lagi, masalah keterbatasan kemampuan tenaga kesehatan yang ada.

Setelah melakukan pemeriksaan lengkap dan melakukan wawancara medis dengan pasien, kesimpulannya, yaitu janin letak lintang, punggung janin di bagian bawah, tunggal, hidup dan cairan ketuban hampir habis. Kondisi yang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa baik ibu maupun janin yang dikandungnya berada dalam ancaman bahaya.

Melihat situasi yang demikian, segera saja Dokter John melakukan rapat koordinasi dengan para bidan dan suster. Dokter John lalu memerintahkan Bidan Anthoneta dan Suster Lidia untuk pergi ke Perum Telkom guna melakukan sterilisasi alat-alat operasi.

Karena aliran listrik di Puskesmas pada siang hari belum menyala, dan baru menyala menjelang maghrib sampai pukul 24.00 WIT (Waktu Indonesia bagian Timur). Suster Ancelina ditugaskan untuk menyiapkan kamar ruang operasi, sekaligus digunakan sebagai ruang bersalin.

Sementara Suster Olivia bertugas menyiapkan beberapa dug steril dan perlengkapan lainnya. Sedangkan Dokter John sendiri harus pergi ke gudang penyimpanan obat di kesusteran untuk mengambil kasa steril.

Keadaan tambah runyam, ketika sampai di gudang kesusteran Dokter John diberitahu oleh Suster Ivo kalau pintu gudang terkunci, dan kunci gudang dibawa oleh para suster ke Merauke. Setelah mengambil cairan obat bius di rumah tempat tinggalnya yang berjarak satu kilometer dari puskesmas dengan berjalan kaki, lantaran satu-satunya mobil ambulance milik puskesmas ringsek dan rusak akibat kecelakaan 15 tahun sebelumnya, Dokter John kembali ke puskesmas. Namun baru saja tiba di puskesmas, Mantri Thomas, salah satu karyawan puskesmas memberitahu kalau pisau operasi sudah habis.

Dokter John lalu memberikan selembar uang kertas seratus ribu rupiah kepada Mantri Thomas dan memerntahkannya untuk membeli silet. Lalu memerintahkan Bidan Anthoneta dan Suster Lidia untuk merebus alat-alat operasi dengan menggunakan kayu bakar. Tepat pukul 10.10 WIT, operasi sesar terhadap Ibu Agustina dilaksanakan dengan silet.

Cerita film yang menarik dan mendalam sisi kemanusiaanya, tak heran bila artis sekelas Christine Hakim bersedia turut membintangi film ini. Christine berperan sebagai Ibu dokter John. Selain Christine Hakim, film ini pun menampilkan bintang-bintang berbakat asli asal Papua.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *