Singgih Sanjaya, Arranger Sederhana dengan Segudang Prestasi

Singgih Sanjaya-arranger

POSFILM.COM – Tidak banyak musisi yang berkecimpung di Orkestra dikenal oleh masyarakat luas. Mereka umunya dikenal dikalangan mereka saja, padahal mereka memiliki keahlian bermusik yang mumpumi, bahkan diakui di dalam dan luar negeri.

Sebut saja nama Singgih Sanjaya. Nama yang satu ini cukup familiar ditelinga musisi-musisi  Indonesia, terutama untuk teman-teman yang bergelut di dunia Orkestra. Namun, namanya terasa asing dikalangan pencinta musik pada umumnya.

Padahal, pria yang mengawali  pendidikan musiknya di SMM Yogyakarta ini memiliki prestasi yang mengagumkan. Dia adalah Salah satu komposer dan arranger senior asal Indonesia yang sudah membuat gubahan-gubahan yang dimainkan orkestra senior di Indonesia, bahkan di Luar Negri.

Bahkan, Singgih yang melanjutkanpendidikan S1 di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan pascasarjana fakultas ilmu budaya UGM Yogyakarta ini tidak hanya cuman hebat dalam urusan arransemen dan kondakting, beliau juga merupakan pemain Flute dan Saxophone yang hebat.

Tidak hanya itu, pria kelahiran  Surakarta, 7 September 1962 ini mendapatkan beasiswa sandwich untuk belajar di Amerika Serikat dan lulus magister pada tahun 2003.

Singgih Sanjaya-arranger-kondukting

Sosok ini memang dikenal sebagai pribadi yang sederhana, jarang diliput media termasuk media TV, tapi karya-karyanya sudah mengharumkan bangsa. Dedikasinya yang tinggi dalam bidang musik, membuat dia menjadi salah satu arranger, komposer, maupun kondaktor musik yang dikagumi.

Singgih Sanjaya juga pernah menjadi kondaktor utama untuk Orkestra Nasional Gita Bahana Nusantara dari tahun 2010-2013, menjadi arranger, kondaktor dan komposer Light Keroncong Orchestra pada Solo Keroncong Festival-Surakarta, September 2012, dan masih banyak prestasinya yang lain.

Arransemennya yang berjudul “Medley Nusantara”, merupakan medley beberapa lagu daerah yang dikemas dalam bentuk orkestra dan sentuhan etnik dari kendang Sunda dan Kacapi. ” Unpredictable”. Memadukan unsur tangga nada pentatonik, progresi akor Jazz, dan sentuhan Swing feel pada bagian tengah lagu membuat “Medley Nusantara” menjadi lagu yang sangat istimewa, dan sangat bangga berkesempatan memainkan salah satu gubahannya.

Pengalaman, dan jam terbang Singgih Sanjaya yang terbilang sudah tinggi membuatnya mendapat kepercayaan untuk menggubah lagu-lagu yang dimainkan oleh orkestra profesional seperti, Twilite Orchestra milik Addie M. S. Salah satunya adalah ‘Kidung Mahardhika’, yang merupakan komposisi untuk Piano dan Orkestra yang dimainkan oleh seorang pianist profesional, Ananda Sukarlan dengan Twilite Orchestra, Agustus 2002, di Jakarta.

Tentu saja segelintir prestasi yang berhasil diraihnya bukan merupakan hasil yang instan. Ada harga yang harus dibayar, ada keringat, tenaga, waktu yang harus dicurahkan. Namun dedikasi Singgih Sanjaya untuk dunia musik yang tinggi membuatnya berhasil mencapai kesuksesannya sampai hari ini.

Seorang muridnya dari ISI pernah bertanya, “Sampai kapan bapak mau arransemen lagu pak? emangnya bapak ngga capek?”

Singgih Sanjaya menjawabnya dengan pasti.  “Musik itu bisa menjadi obat bagi jiwa, dengan saya bermusik, saya merasa selalu sehat. Itu yang membuat saya tidak ingin berhenti berkarya”.

Terbukti dengan terpilihnya dia menjadi pekerja tenaga pengajar tetap ISI Yogyakarta.

Namun seiring bertambahnya usia, tentu saja kesehatan setiap orang akan menurun. Energi yang dikeluarkan tidak bisa seperti waktu muda.

Hal ini pun yang dialami oleh Singgih Sanjaya, arranger,kondaktor,dan komposer Light Keroncong Orchestra pada Solo Keroncong Festival-Surakarta, September 2012 ini dikabarkan terkena serangan stroke pada bulan Maret lalu,yang menyebabkan dirinya harus dirawat selama satu minggu dirumah sakit.

Kabar bahagianya,  meskipun kondisinya belum pulih benar, beliau sudah diperbolehkan pulang dan menjalani perawatan dirumah.

Kita sama-sama berdoa agar kondisi beliau dapat kembali pulih dan kembali berkarya memajukan musik orchestra Indonesia. Amin

Jadi,sosok Singgih Sanjaya memang patut kita contoh. Menjadi seorang dengan banyak prestasi dan penghargaan bukan menjadi alasan kita untuk menjadi sombong.

Karena seperti kata pepatah “diatas langit, masih ada langit lagi” maka seperti itulah kita harus bersikap. Jadilah generasi muda yang mengukir banyak prestasi namun tetap sederhana dan rendah hati. Jangan takut untuk bermimpi, jangan takut untuk mencoba.[*Rachel Levina/PF]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *