Review Lasjkar di Tapal Batas : Film Perjuangan Berbalut Drama

Lajskar Tapal Batas-primiere-foto Merwyn-PF-08 2016-2

POSFILM.COM – Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, rumah produksi Bidar Batavia bersma Ivu Pictures meluncurkan film teranyarnya bertajuk Lasjkar di Tapal Batas. Film ini mengangkat kisah Tidjan, anak muda dari desa yang cinta mati pada bangsanya.

Sinopsis

Secara keseluruhan, film ini mengangkat kisah nyata perjuangan rakyat Bogor, yang diwakili oleh sosok Tidjan (Gorz Kurniawan) di era euforia kemerdekaan tahun 1945, kala Belanda berniat menjajah kembali Indonesia. Disulut kemarahan yang luar biasa, rakyat Bogor pun dengan penuh sukarela menjadi pejuang demi mempertahankan kemerdakaan negeri ini.

Bersama barisan pejuang yang akhirnya disebut “Lasjkar Rakjat” (sipil bersenjata), Tidjan, sang pemuda kelahiran tahun 1930 ini berusaha membalaskan dendam bangsa seiring dengan munculnya kejadian Rawagede, Karawang. Kejadian yang berlangsung pada akhir tahun 1947 itu membuat lebih dari 400 lebih rakyat jelata dibantai oleh Belanda.

Adegan dibuka dengan tawuran antar sekelompok murid SMA dengan sekelompok polisi yang berusaha membubarkan tawuran tersebut. Di antara para murid SMA, terdapat Akbar (Arvin Ryan) yang berusaha kabur dari kejaran polisi. Tak dinyana, kejadian tersebut mempertemukannya dengan Nonon tua (Yati Surachman).Cerita sebenarnya pun dimulai dari flashback memori yang selama ini selalu dikenang oleh Nonon.

Lajskar Tapal Batas-primiere-foto Merwyn-PF-08 2016-1

Plus Minus

Sebetulnya, harus diakui bahwa ide yang dibawa terasa segar di dunia perfilman tanar air, meski cerita seperti ini bukan merupakan hal baru. Sebut saja sejumlah judul seperti Hati Merdeka (2011), Merah Putih (2009)  ataupun Soerrabadja 45 (1990).

Namun sayang, ide ciamik yang melatarbelakangi lahirnya Lasjkar di Tapal Batas ini tidak didukung dengan eksekusi yang mumpuni.

Sebagai film yang berjalan dari dua era yang berbeda, tak terasa perpindahan adegan zaman tahun 1940-an dengan adegan di era tahun 2000-an.

Selain itu, untuk film bertema perang dan perjuangan, rasanya film ini sungguh kekurangan figuran. Sebab, bagi adegan perang besar-besaran, film ini terasa sepi pemain.

Kemudian, harus diakui film garapan Bayu Prayogo ini lebih banyak menonjolkan adegan drama daripada adegan perjuangannya. Sangat disayangkan, sebab di awal kemunculannya, baik sinopsis, poster hingga trailernya, Lasjkar di Tapal Batas digaungkan sebagai film perjuangan dalam rangka mengenang jasa para pahlawan dan sengaja diluncurkan berkenaan dengan hari kemerdekaan Indonesia.

Sehingga, untuk film berdurasi 80 menit, bagian awal hingga pertengahan film ini terasa sangat membosankan dan kurang greget. Pergerakan dari satu adegan ke adegan lain juga terasa lamban dan pelan.

Namun, kehadiran salah seorang aktor pendatang baru yang memerankan Juri membawa angin segar bagi film produksi Letsman Tendy ini. Pasalnya, meski merupakan film perdananya, namun ia sanggup mengocok perut penonton dengan penampakannya yang serba unik dan menarik, rambut kribo, gigi ompong dan kulit gelap. Sehingga, meski dialognya serius, namun pemain tersebut sanggup membungkus adegan yang diperankannya dengan mulus dan membuat penonton terhibur.

Tak hanya itu, harus diakui meski merupakan film perdananya, namun pemilihan Shakir Daulay sebagai pemeran Tidjan kecil terasa pas dan tepat dibandingkan Gorz Kurniawan. Meksi sama-sama pendatang baru, namun Shakir lebih mampu merepresentasikan sosok anak desa dengan segala mimpi perjuangannya dibandingkan dengan Gorz, pemeran Tidjan dewasa.

Untuk segi musikalitasnya juga Lasjkar di Tapal Batas tak main-main dalam memperdengarkan gegap gempita kemarahan rakyat Indonesia kala menghadapi sang penjajah yang amat dibencinya. Sebab, dari awal, film ini dibuka dengan musik yang menggugah batin dan mencerminkan semangat patriotisme.

Kemudian, hal lain yang harus dijadikan catatan penting dari Lasjkar di Tapal Batas yakni makna dan pesan moralnya yang amat mendalam soal semangat nasionalisme yang berusaha dipupuk kembali pada generasi muda-mudi masa kini. Film ini berusaha betul mewujudkan rasa patriotisme dalam wujud visual demi mengenang kembali jasa para pahlawan dengan segala perjuangannya.

Lajskar Tapal Batas-primiere-foto Merwyn-PF-08 2016-3

Sehingga, boleh dikata, meski kemasan film ini terasa lebih didominasi oleh genre drama ketimbang perjuangannya, namun demi mengenang jasa para pahlawan serta memupuk rasa nasionalisme dan patrotisme, terlepas dari segala kekurangan film ini,  maka Lasjkar di Tapal Batas merupakan pilihan menarik bagi keluarga Indonesia yang tak boleh dilewatkan begitu saja.

Semangat Letsman, Bayu Prayogo, seluruh kru dan pemain untuk mengenang dan menghargai para pahlawan Indonesia adalah bukti semangat nasionalisme mereka, cinta Tanah Air. Termasuk juga posfilm sebagai media partner dan beberapa media lainnya, menyadari film-film bertema perjuangan seperti ini memang perlu diapresiasi, mendapatkan dukungan dari media.

Merdeka Indonesia, hargai jasa para pahlawan kita, hargai karya anak bangsa, tonton Lasjkar di Tapal Batas segera![]

 

Baca Juga :

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *