London Love Story : Jatuh Cinta Hanya Butuh 3 Hari!

LONDON LOVE STORY-pf-2

 

“Cinta bukanlah cinta, jika menyerah. Namun terkadang cinta sejati itu adalah tentang pengorbanan, keikhlasan dan rela melepaskan ia yang kita cintai untuk berbahagia dengan pilihan hatinya”.

 

POSFILM.COM – “London Love Story” memang layak sebagai film wajib tonton buat para remaja menyambut hari Valentine February 2016. Film produksi Screenplay ini bertabur bintang-bintang muda seperti : Dimas Anggara , Michelle Ziudith, Dion Wiyoko dan Adila Fitri. Bergenre drama romantika mengambil setting kota london, ceritanya sendiri tidak jauh dari percintaan anak muda yang penuh dinamika.

LONDON LOVE STORY-pf-1

Setelah Magic Hours, inilah film kedua produsksi Screenplay dan kembali menduetkan Dimas Anggara dan Michelle Ziudith dalam drama percintaan anak muda.

Tidak sabar menunggu filmnya tayang pada 4 Februari nanti, yang membawa kita bisa menyaksikan bagaimana Asep Kusdinar, sang sutradara meracik keindahan kota London membawa romantisme cinta anak-anak muda ini dalam cerita yang membuat baper para penonton.

 

 

 

SINOPSIS

Film dibuka dengan adegan di pinggir pantai. Dimana terdapat sepasang lelaki dan perempuan yang tengah di mabuk asmara. Keduanya saling berdekapan. Dan di tengah desiran lembut ombak, sang perempuan berkata : “Aku minta sama Tuhan buat ambil hidup aku sehari sebelum Tuhan ambil hidup kamu. Aku enggak tahu tentang hari  ke depan, tapi aku janji akan mencintai kamu setiap hari.” Kemudian, mereka kembali berbagi rengkuhan mesra.

Dave (Dimas Anggara) adalah sosok lelaki yang mencoba berbagai macam cara untuk mengobati luka hatinya. Sejak setahun kepergian sang pujaan hati yang bagai lenyap ditelan bumi, Dave pun terjun dalam kehidupan gaya hidup yang tipikal ‘anak muda banget’ “young, wild and free”.

Hingga suatu malam, kejadian tak terduga membuatnya bertemu dengan Adelle (Adila Fitri), seorang cewek yang berusaha bunuh diri akibat kegagalannya untuk melangkah ke jenjang pernikahan dengan sang pujaan hati. Ternyata kehadiran Adelle yang awalnya sempat jatuh cinta pada Dave, justru dapat memberikan dampak positif pada luka hati Dave.

Disisi lain ada pula sosok Caramel (Michelle Ziudith) yang juga tak pernah bisa berdamai dengan kenangan masa lalunya. Ada satu luka yang belum juga pulih, meski waktu terus bergulir, tanpa bisa diputar kembali. Ia pun mencoba menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, yang salah satunya adalah bekerja di salah satu kedai di kota London.

Meski berbagai upaya telah Caramel akukan, termasuk membuang surat-surat cinta dari sosok di masa lalunya, namun hatinya tak pernah setegar yang berusaha ditampilkannya. Dan walaupun ada Bima (Dion Wiyoko) yang selalu pantang menyerah mengejar cintanya, termasuk melamarnya untuk dijadikan pendamping hidup, namun tetap saja ada bongkahan besar di hati Caramel yang masih memenuhi ruang hatinya. Justru keberadaan Bima justru dapat membantu Caramel menemukan kembali cinta sejatinya.

 

Plus Minus

LONDON LOVE STORY-lopinta-pf-1
Prees Screening film London Love Story, di Plaza Senayan, Cinema XXI, Senin (1/2/2016) /fto Lopinta/pf

 

Tak hanya menampilkan beberapa pemain langganan rumah produksi Screenplay, tapi ada juga beberapa nama yang boleh jadi dianggap sebagai magnet tepat dalam teknik pemasaran.

Kehadiran Aron Ashab, sang youtubers Indonesia, walau hanya sebagai cameo, boleh jadi adalah salah satu trik jitu untuk menarik minat para followersnya yang berjumlah jutaan di beberapa sosial media.

Tak hanya itu, kehadiran Ramzi juga boleh dibilang membawa angin segar dalam fim ini. Kehadirannya yang walau hanya sesaat di beberapa adegan merupakan hiburan yang kocak, apik dan menggelitik.

Bahkan salah satu celetukannya : “Helllaaaww… Udah bertahun-tahun tinggal di London, masih aja alay!” mampu membuat para pemburu berita terpingkal-pingkal dibuatnya pada saat press screening yang dilakukan di Cinema XXI, Plaza Senayan, Senin (01/02/2016).

Film karya Asep Kusdinar ini merupakan film genre drama romantis kedua produksi Screenplay Films yang menggambarkan dua sosok manusia yang bisa saling jatuh cinta hanya dalam waktu tiga hari.

Waktu yang singkat, namun mampu membuat sepasang muda-mudi kian dekat dan terpikat. Dan meski kisahnya tentang pasangan yang jatuh cinta dalam waktu singkat, namun pengerjaan filmnya sendiri sampai membutuhkan total waktu lebih dari delapan bulan, terhitung mulai dari penulisan skenario, proses pra produksi hingga proses syutingnya.

Film ini mengangkat tema klasik yang telah dialami oleh berjuta umat manusia, yakni : gagal move on, gagal married dan gagal menggapai cinta sang pujaan hati aka cinta bertepuk sebelah tangan.

Sehingga seharusnya dengan tema yang sekompleks itu, diharapkan film ini mampu membuat para penontonnya hanyut dalam luka, duka dan air mata yang terus-menerus menghiasi layar lebar penonton.

Namun sayangnya, film ini tak lebih dari beberapa film tanah air serupa yang hanya mengutamakan suguhan pemandangan suatu negara beserta rangkaian lokasi objek wisatanya, tanpa betul-betul memperhatikan cara memainkan emosi penonton secara maksimal.  Film ini tak lebih dari sekedar tampilan jalan-jalan cantik ke beberapa lokasi terkenal di London, seperti : London Eye, London Tower Bridge, Trafalgar serta Big Ben yang merupakan landmark kota London.

Sehingga jika ada istilah don’t judge a book by its cover, maka sayangnya harus diakui bahwa sesuai dengan judulnya, film ini hanya menjual gambaran tentang megahnya kota London dan kisah cinta. Sesederhana itu. Tanpa makna mendalam yang menjadi esensinya.

Namun harus diakui, film ini dapat dikatakan sebagai salah satu film nasional wajib tonton di Valentine 2016. Melalui alurnya yang maju-mundur, maka harapan agar penonton tetap menanti-nanti jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang coba ditimbulkan dari jalan ceritanya, boleh dibilang cukup berhasil. Karena terkadang, ada beberapa adegan yang memang di luar prediksi penonton alias unpredictable story.

Meskipun skenarionya terasa agak kurang natural, namun menigngat target penontonnya yang adalah kaum remaja, maka dapat dikatakan bahwa film yang punya target penjualan satu juta penonton ini, boleh diprediksi akan cukup berhasil kelak dalam menggaet para pangsa pasarnya. Karena dari rangkaian percakapan demi percakapan tersebut dapat dijadikan ‘quotes-quotes’ andalan oleh para remaja Indonesia dalam menerjemahkan isi hatinya. Sehingga boleh dibilang, film ini akan mampu memenuhi kebutuhan target marketnya, yakni sebuah film yang digadang-gadang bisa bikin ‘baper’ alias terbawa perasaan para remaja Indonesia.

Untuk tata rias dan wardrobenya sendiri, di salah satu ‘adegan bocor’, dimana tampak penonton asli orang London yang tengah menyaksikan jalannya syuting dan tertangkap kamera, dapat dikatakan bahwa secara gaya busana terasa agak kelewat modis untuk menggambarkan sosok Caramel yang cukup sederhana, mengingat pekerjaannya di sebuah kedai mungil di London.

Sedangkan untuk sosok Adelle pun terasa kurang tepat ketika gincu merah muda menghiasi bibirnya di salah satu adegan saat ia baru bangun tidur, menikmati chocolate pancake yang mana lelehan cokelat menetes di bibirnya.

Namun saat ia menyeka dengan kemeja putih milik Dave, tak ada satu pun noda yang tertinggal di kemeja putih tersebut dan bibirnya pun bergincu tebal kembali. Padahal untuk adegan ‘baru bangun tidur, semalam habis menangis dan stress karena gagal kawin’, harusnya riasan wajah Adelle dibuat senatural mungkin.

Namun untuk gaya busana Dave yang terkenal glamor, boleh dibilang mulai dari apartement yang ditempatinya, mobil mewah yang digunakannya dan gaya hidup yang dijalaninya cukup apik melekat pada sosok Dimas Anggara, yang sangat mampu memerankan peranannya dengan apik.

Sama halnya dengan citra Bima yang tak banyak digali dalam film, namun secara tampilan sosok Dion Wiyoko cukup lihai memerankan peranannya sebagai sosok penuh cinta kasih, penyabar dan penyayang yang tak perlu hebring bergaya, karena yang ia punya hanya cinta.

Adapun lagu “Percayalah” ciptaan Afgan dan Raisa yang juga dinyanyikan sendiri oleh kedua bintang tersebut dipilih menjadi original soundtrack dari film ini. Bahkan lagu tersebut punya porsi spesial di dalam jalan ceritanya. Sehingga bisa dikatakan pemilihan soundtrack film ini cukup tepat, mengingat kepopuleran dua penyanyi yang tengah naik daun ini dapat digunakan sebagai senjata pamungkas dari strategi promosi film yang berdurasi 90 menit ini.

Film yang juga menggunakan Pulau Dewata Bali nan eksotis sebagai lokasi utama kedua pembuatannya ini mengandung pesan moral bahwa cinta bukanlah cinta, jika menyerah. Namun terkadang cinta sejati itu adalah tentang pengorbanan, keikhlasan dan rela melepaskan ia yang kita cintai untuk berbahagia dengan pilihan hatinya.

Karena hati boleh memilih, namun takdir punya jawabannya sendiri. Dan terkadang sang takdir jualah yang akan menunjukkan siapa cinta sejati sesungguhnya, meski terkadang waktu dengan egonya membuat seseorang harus bersabar menanti dalam perjuangan yang tanpa henti.[]

 

Berita Terkait : http://posfilm.com/dimas-anggara-saya-ditampar-tujuh-kali/

http://posfilm.com/afgan-apresiasi-banget-laguku-jadi-nyawa-lls/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *