Ketua GPBSI Djoni Syafrudin: Back to Zero, Menata Film Nasional Kita Mulai Kembali dari Nol

djoni-syafrudin-ketua-gpbsi-pf

POSFILM.COM – Jelang akhir tahun 2016, geliat perfilman nasional yang sepanjang tahun 2016 ini makin menunjukan perkembangan khususnya dalam jumlah film nasional yang diproduksi dan juga minat penonton film nasional.

Namun, pertanyaan yang timbul adalah, apakah perkembangan tersebut sudah memberikan keuntungan tidak saja bagi rumah produksi, tapi juga bagi para pemilik bioskop? Apakah kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman Nasional, turut mendukung usaha bioskop?

Menonton film yang merupakan salah satu gaya hidup masyarakat urban perkotaan,  menuntut keberadaan bioskop-bioskop saat ini berubah, mengikuti perkembangan teknologi dan budaya yang ada saat ini.

Menyikapi hal tersebut, posfilm.com berkesempatan wawancara khusus dengan salah satu tokoh perbioskopan di tanah air yakni, Djoni Syafrudin, di kawasan Kalimalang Jakarta Timur, Kamis (22/12/2016) siang.

Menurut Djoni, yang juga Ketua Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI),  perkembangan film nasional yang bertambah dalam jumlah produksi, namun sesungguhnya belum memberikan hasil yang menguntungkan dalam sisi bisnisnya.

“Keberhasilan beberapa film nasional menembus angka di atas 1 juta penonton, bahkan film Warkop DKI Reborn, sukses meraih lebih 6 juta penonton, ini tentu kabar menyenangkan dan sekaligus membanggakan bagi industri film nasional,” ujar Djoni.

“Namun hanya beberapa saja film nasional saja yang mampu sukses meraih penonton lebih 1 juta, lainnya meraih hasil kurang sukses, ini menandakan bahwa film nasional sesungguhnya belum beranjak, dan pemilik bioskop dituntut untuk memutar film nasional, padahal ini masalah bisnis,” tambah Djoni.

Bicara film sebagai industri maka harus berbicara melibatkan semua unsur dalam perfilman, baik itu rumah produksi (produser), pemerintah, pemilik bioskop, dan juga pengamat. Membuat film yang laris maka harus didukung film yang bagus dan juga promosi yang bagus.

Membuat film yang bagus maka dituntut SDM (sumber daya manusia) yang berkualitas. Agar film nasional kian maju dan menarik serta beragam ceritanya, Djoni mengusulkan agar pemerintah turut berperan dengan memberikan beasiswa bagi filmaker-filmaker berbakat untuk disekolahkan ke luar negeri. Djoni mengambil contoh Sjumandjaya, yang seingatnya mendapat beasiswa dari pemerintah untuk memperdalam ilmu cinematography ke Moskow, Rusia.

“Saya kira dari pada pemerintah membiayai buat festival film, lebih bermanfaat bila memberikan beasiswa pendidikan pada filmaker bersekolah ke luar negeri. Ga perlu pemerintah urusin festival film seperti FFI misalnya. Biarlah festival film diurus swasta dan biar jalan sendiri,” papar Djoni.

Dijelaskan Djoni, pasalnya kita butuh banyak SDM yang berkualitas di industri film, untuk itu dibutuhkan peran pemerintah turut mendukung industri film nasional kian maju lagi ke depannya.

Hal lainnya yang juga tak kalah pentingnya guna membuat film bagus dan menarik, Djoni menghimbau pada para pelaku di industri film sebaiknya berkomunikasi juga dengan pihak bioskop.

“Ini saran saja, kalau mau menggeluti industri film nasional, sebaiknya kita (pemilik bioskop) diajak untuk sumbang saran, kalau filmnya ga mau jeblok total. Karena kita kan tiap hari bertemu dengan penonton, setidaknya tahulah selera seperti apa yang diinginkan penonton film nasional,” himbau Djoni, yang kini tengah menyiapkan 6 bioskop di beberapa daerah diantaranya Pekalongan, Cilacap, dan Tegal.

Ditengah geliat perkembangan industri film nasional dengan segala persoalan yang masih ada, Djoni tetap optimis di tahun 2017 perkembangan industri film nasional akan jauh lebih baik.

“Para pelaku industri film dan juga pihak terkait dengan industri film, termasuk juga pemerintah, harus duduk kembali dan memulai kembali dari nol, back to zero. Segala permasalahan dan hal-hal lain masa lalu kita lupakan, dan kita memulainya kembali dari nol, karena saat ini zamannya pun telah berubah,” ujanya.

“Jumlah layar bioskop yang mencapai sekitar 1.300 layar tentu ini jadi peluang besar untuk industri film nasional memperoleh penonton lebih banyak lagi,” tandas Djoni mengakhiri wawancara ini.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *