Jelang Konggres, Kembali ke PARFI 1956 dan Tolak Konggres di Lombok

Sahabat Parfi-foto Merwyn-PF-07-2016-HL

 

POSFILM.COM – Persatuan Artis Film Indonesia yang lebih dikenal dengan PARFI, adalah salah satu organisasi tempatnya para pekerja film (sineas termasuk artisnya) berkumpul .PARFI yang menaungi para artis regional maupun nasional, berpusat di Jakarta.

Sebentar lagi pengurus PARFI 2011-2016, yang dipimpim Ketua Umum AA. Gatot Brajamusti, tahun 2016 ini, adalah tahun terakhir. Akan menggelar kongres untuk memilih Ketua Umum yang baru, dikabarkan Konggres tersebut akan dilaksanakan di Lombok pada Agustus ini.

Terkait akan digelarnya pemilihan Ketua Umum PARFI dan juga acaranya yang akan digelar di Lombok, beberapa artis yang tergabung dalam Sahabat PARFI, menyuarakan pendapatnya, dan harapannya akan gelaran konggres di Lombok juga kebaradaan PARFI ke depannya.

 

Sejenak menginggat kembali sejarah lahirnya PARFI.

 

Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI)  didirikan pada awal bulan Maret 1956 dalam kongres yang diadakan para pemain dan pekerja film melakukan kongres pada saat itu. Para tokohnya yang mendirikan pada saat itu adalah Usmar Ismail dan Djamaludin Malik. Selanjutnya ditetapkan tanggal 10 Maret sebagai hari kelahiran PARFI.

Jauh sebelum PARFI dibentuk, keinginan para artis untuk membentuk organisasi profesi sudah ada sejak tahun 1940, saat dibentuk Sari (Sarikat Artist Indonesia). Mereka yang menjadi anggota Sari adalah pemain sandiwara, penari, sutradara, penyanyi hingga pelukis.

Pada tahun 1951, lahir Persafi (Persatuan Artis Film dan Sandiwara Indonesia). Ini adalah wadah lanjutan dari Sari, meski selanjutnya terjadi pula kemandulan,

Kemudian lahirlah Parfi pada tahun 1956. Kongres Pertama embrio Parfi diadakan di Gedung SBKA Manggarai, Jakarta dengan sekretariat di Jalan, Kramat V Jakarta Pusat,  Ketua Umum yang pertama PARFI adalah Soerjo Soemanto (1956-1971).

Namun, ketika era orde baru, PARFI sempat dikabarkan menjadi ‘kendaraan’ politik, dikarenakan banyak pengurus dan anggotanya dari para artis yang terjun di dunia politik.

PARFI lahir melalui semangat untuk menyumbangkan darma bakti guna mewujudkan cita-cita memajukan bangsa dan negara berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

PARFI merupakan organisasi profesi keratisan film Indonesia yang menjadi wadah bagi para seniman seni peran film.

PARFI juga turut membina kemampuan profesi anggota melalui pendidikan dan latihan, maupun sarana lain yang menunjang, serta kegiatan-kegiatan sosial yang mampu menjembatani hubungan para artis film dengan masyarakat.

 

Sahabat Parfi-foto Merwyn-PF-07-2016-3
Anak Tangga Parfi, juga menginginkan kembali ke marwah Parfi 1956, dan juga tolak Konggres Parfi di Lombok /foto: Merwyn-PF

Gaung PARFI memang belakangan mulai tak terdengar, bahkan semakin redup peranannya. Memang saat ini perfilman nasional sedikit terlihat kembali Berjaya, menggeliat lagi roda produksi film nasional. Namun di pandangan Sahabat PARFI, masih banyak kekurangan yang belum diperbuat pengurus PARFI saat ini.

“Ramainya produksi film hanya di ibu Kota, Jakarta, di daerah, industri film belum bangkit, padahal hampir di setiap provinsi ada PARFI,” ujar Kemal Marvin, pada POSFILM, disela acara Halal Bihalal Sahabat Parfi yang digelar di cafe De Bong, di Kayu Putih Raya, Jakarta Timur, Sabtu (16/7/2016) malam.

Berdasar hal tersebut diataslah yang membuat Kemal Marvin, Debby Chintya Dewi, Darti Manulang, Yuzar Nazaros, dan beberapa lainnya dari Sahabat PARFI menginginkan PARFI kembali kepada marwah PARFI 1956.

“Parfi mendatang harus bisa berperan besar untuk memajukan perfilman nasional serta bersinergi dengan produser dan pemerintah, serta organisasi terkait untuk turut menghasilkan film nasional berkualitas,” lanjut Kamel.

Mereka, Sahabat PARFI, tidak mendeskreditkan seseorang, dan juga tidak menetapkan siapa yang akan mereka usung sebagai calon Ketua Umum PARFI periode 2016-2021.

Tentang siapa yang akan jadi Ketua Umum PARFI priode 2016-2021, artis senior Ida Leman mengatakan, harus ada sosok orang film yang mengerti film. “Ketua yang baru nanti harus paham tentang perfilman dan bisa membangkitkan kejayaan Parfi seperti dulu. Kita kangen dan rindu seperti Parfi yang dulu,” ungkap Ida Leman.

“Siapa saja boleh jadi ketua Parfi, yang ingin jadi Ketua Parfi mendatang buat saya tidak masalah. Terpenting adalah harus mampu mengembalikan kejayaan Parfi, kembali ke marwah Parfi seperti dulu. Tepatnya ruhnya Parfi harus dimiliki oleh Ketua yang baru,” tambah Kamel yang dua priode dua kepengurusan Parfi terakhir, justru dinilainya Parfi kian terpuruk kinerjanya.

Mengenai pelaksanaan konggres PARFI di Lombok, Sahabat PARFI tegas menolak. Alasan mereka sama.

“Saya tidak setuju jika Kongres Parfi nanti dilaksanakan di Lombok. Buat apa dilaksanakan di sana, ‘kan artis-artisnya ada di Jakarta. Jadi sebaiknya ya kongres Parfi dilaksanakan di Jakarta saja,” ujar Darti Manulang

“Jika tetap dilaksanakan di Lombok, kita akan boikot,” ancam Kamel Marvin yang diamini artis yang hadir dalam jumpa pers malam itu diantaranya, seperti Debby Chintya Dewi, Rani Soraya, Ida Leman, Neni Triana, Anton Banderas, Lela Angreini dan beberapa artis lainnya.

Ketua Pelaksana Anak Tangga Parfi, Yuzar Nazaros mengatakan, “Saya juga berharap dari sini (silahturahmi Sahabat Parfi), para artis bersatu untuk kejayaan kembali Parfi dan film nasional, termasuk juga para pekerja filmnya.”

Ya, dari sekedar acara Halal Bihalal dan temu kangen, mereka yang hadir juga kangen akan kembalinya kejayaan Parfi, kembalinya marwah Parfi 1956. Mereka yang hadir juga adalah anggota Parfi. Jadi, alangkah baik dan bijaksananya bila usulan dan harapan mereka tidak sekedar di dengar oleh pengurus Parfi saat ini. Setidaknya bisa dijadikan intropeksi untuk keyajayaan kembali Parfi, sebagaimana Parfi 1956.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *