Gelar Dialog, FORWAN Gagas Hari Televisi Nasional

dialog6

POSFILM.COM – Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia menggagas perayaan yang selama ini belum ada yakni Hari Televisi Indonesia dalam bentuk dialog bersama para stakeholder dunia pertelevisian tanah air, pemerhati, lembaga survey dan jurnalis . Dialog dihelat di Gedung Film Jakarta, Rabu (31/8/2016).

Dunia pertelevisian tanah air telah menjadi industri besar saat ini. Televisi menjadi etalase, sehingga kerap dituding hanya mengejar peringat, tapi jarang berfikir azas manfaat. Oleh karenanya televise diharapkan tidak saja mengejar peringkat namun juga bermanfaat, sekaligus berharkat serta bermartabat.

Industri televise adalah industri besar yang hingga 15 tahun ke depan masih memiliki prospek bisnis cukup tinggi. Perkembangan teknologi digital di dunia penyiaran berkembang secara masiv. Seiring dengan hal itu kultur penonbton televisi pun berubah.

Hadir dalam dialog bertema “Televisi Indonesia Menjangkau Peringkat dan Manfaat” antara lain; Endah Hari Utari (Direktur Program MNCTV), Alex Kumara (Praktisi Televisi), Wishnuthama Kusubandio (Chief Executive Office NET TV), Sudarmedi, pejabat dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), seniman, budayawan, serta para Wartawan yang tergabung di FORWAN.

dialog2Dialog interaktif itu di pandu oleh Maman Suherman sebagai m oderator. Wartawan senior itu cukup piawai mengawal jalannya dialog sehingga para narsumber bisa menyampaikan ide dan gagasannya dengan maksimal.

Terkait persoalan peringkat dan manfaat televisi, menurut Zoel Lubis, wartawan hiburan senior, sekarang masyarakat kita sudah cerdas memilahnya. Sepanjang masih menerima konten-konten yang dihadirkan televisi, maka dapat diartikan televisi masih bermanfaat. Namun tayangan televisi yang memberi manfaat itu harus memiliki nilai edukasi. Sehingga televisi tidak saja bermanfaat bagi pengelola di dalamnya, tapi juga para permisanya.

Menurut Endah Hari Utari (Direktur Program dan Produksi MNCTV), bahwa pihaknya telah melihat perkembangan media untuk sepuluh tahun ke depan, prediksi kepemirsaannya masih tinggi. Ini tentunya sangat mempengaruhi konten dari pada program-program televisi yang akan dibuat oleh masing-masing stasiun televisi.

dialog4Sementara Katrina, mewakili AC Nielsen menegaskan bahwa Hari Televisi Indonesia yang digadang-gadang FORWAN pasti akan bertahan lama. Karena televisi masih mempunyai jangkauan yang tinggi.

“Industri televisi masih sangat seksi dari sisi ekonominya dan tidak mungkin ditinggalkan iklan. Bahkan trendnya terus ada kenaikan sehingga optmisme industri televisi Indonesia masih tinggi ekspektasinya. Dan konsumsi iklan televisi cenderung mengikuti kontennya dan bukan platformnya,” ujar Katrina.

Sedangkan menurut Ningsih Sumitro dari Roy Morgan Research, riset yang dilakukan lembaganya hanya fokus pada trend penonton terhadap sebuah konten program televisi yang ditayangkan saja. Sekaligus memberi panduan bagi pemasang iklan yang pas dengan konten program acaranya.

Oleh karenanya Alex Kumara, salah satu tokoh industri televisi Indonesia, melihatnya sebagai sebuah tantangan bagi perkembangan industri penyiaran televisi Indonesia yang tidak saja televisi harus tetap membutuhkan peringkat namun juga lebih mempunyai manfaat bagi masyarakat.

dialog1Persoalannya, lanjut Alex Kumara, dengan perkembangan industri penyiaran televisi yang begitu pesatnya apakah para produser masih bisa kreatif dimana setiap kota hampir rata-rata memiliki 18 stasiun televisi.

Di sisi lain, Wishnutama, Direktur Utama Net Televisi, menjamin tidak ada acara yang terinspirasi acara lain. Jadi salah bila menganggap kalau sekarang televisi programnya seragam. Justru konten program televise sudah sangat bervariasi.

“Bayangkan satu minggu ada 300 program yang programmnya tidak seragam. Oleh karenanya stasiun televisi punya program acara sendiri yakni hanya program drama dan 15 persen sisanya diproduksi oleh Production House,” ungkapnya.

Terkait pencanangan Hari Ttelvisis, Sudarmedi menyampaikan, ide atau usulan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah bahwa 1 April menjadi Hari Penyiaran. “Sudah diusulkan sejak tahun 2010. Tanggal itu didasari oleh adanya siaran perdana di Solo 16 Juli 1937,” katanya.

dialog3Meski sudah ada usulan, namun perubahan masih mungkin terjadi mengingat, munculnya fakta baru yakni radio pertama kali disiarkan tahun 1925 di Bandung.

Sudarmedi menambahkan penentuan tanggal tersebut pun masih menyisakan masalah lain yaitu apakah Hari Televisi mau disamakan dengan Hari Penyiaran atau berdiri sendiri. “Kami mempersilahkan pakar dan stakeholder membicarakannya. Yang penting kalau tanggal 1 April ditetapkan sebagai Hari Penyiaran sekaligus Hari Televisi 1 April, jangan sampai bentrok dengan peringatan hari lain,” papar Sudarmedi.

Acara yang disupport beberapa stasiun televisi swasta, LG Televisi, Batik Trusmi itu ditutup dengan penandatanganan spanduk deklarasi Hari Televisi Indonesia oleh para peserta yang disaksikan oleh para petinggi televisi.[]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *