FORWAN dan Sinematex Indonesia Gelar Retrospeksi Film Indonesia

forwan-sinematex

POSFILM.COM – Pengurus FORWAN (Forum Wartawan Hiburan) Indonesia melakukan pertemuan dengan Badan Pengelola Sinematex Indonesia, di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (15/9/2016).

Dari dialog pertemuan tersebut mengemuka betapa pentingnya arsip berupa dokumen tertulis maupun berupa benda-benda sebagai bagian dari rentang waktu perjalanan sebuah sejarah, khususnya sejarah perfilman Indonesia..

Ketua Umum FORWAN (Forum Wartawan Hiburan) Indonesia, Sutrisno Buyil,mengatakan pertemuan ini dimaksud untuk memperkenalkan jajaran pengurus baru Forwan yang selama ini banyak meliput berbagai kegiatan produksi film, televisi, musik, pariwisata dan budaya.

“Pengurus baru FORWAN masa bakti 2016-2020 belum lama terbentuk. Oleh karena itu kami perlu memperkenalkan pengurus baru ini ke berbagai instansi atau lembaga lainnya, khususnya Sinematek Indonesia,” ujar Sutrisno Buyil

Dilanjutkan oleh Buyil, dari perkenalan ini diharapkan kami dapat menjalin kemitraan yang produktif, serta menempatkan Sinematek Indonesia menjadi bagian penting dari program kerja FORWAN di masa depan.

Selain Sutrisno Buyil, hadir di acara ini para Pengurus FORWAN lainnya, diantaranya, John Yoseph Sinyal (Dewan Pengawas), Eddie Karsito (Sekretaris Umum), Teguh Supriyatno (Ketua Seksi Usaha Advertising & Media Komunikasi), dan Mulyadi Muller (Ketua Seksi Kelola Media Sosial).

Kehadiran FORWAN disambut langsung oleh Ketua Sinematek Indonesia, Adisoerya Abdy. Menurut Adi yang juga produser dan sutradara film ini, Sinematek merupakan `perpustakaan` film Indonesia yang tak banyak dilirik. Insan perfilman sekalipun menurutnya, terutama sineas angkatan muda, kurang peduli terhadap keberadaan Sinematek.

“Kearsipan film Indonesia sangat penting untuk menjadi rujukan, khususnya bagi para peneliti sejarah film Indonesia. Tapi banyak yang tidak memiliki kesadaran itu. Jangankan ngurusin Sinematek, orang bikin film saja enggak kasih (copy) filmnya ke Sinematek. Yang rugi dirinya sendiri. Karyanya tidak dikenal orang, karena tidak ada dokumentasinya. Lalu negara rugi karena kehilangan heritage karya film anak bangsa,” ungkap Adi.

Dalam kontekstualisasi sejarah, lanjut Adi, menjadi penting untuk menunjukkan posisi perfilman Indonesia dari sisi kuantitas maupun kualitas.

“Sinematek Indonesia menjadi tonggak perfilman Indonesia yang tak melupakan sejarahnya. Dan dengan segala keterbatasannya Sinematek Indonesia tetap berupaya mempertahankan keberadaannya,” ujarnya.

Menurut Adisoerya Abdy, dukungan dari berbagai pihak, baik materi maupun moril sangat diperlukan untuk terus melestarikan dan menjaga lembaga kearsipan film yang amat penting ini. Adi mengharapkan para wartawan yang tergabung di FORWAN (Forum Wartawan Hiburan) Indonesia ini dapat berperan aktif menghidupkan keberadaan Sinematek Indonesia melalui berbagai kegiatan yang bersifat edukatif.

FORWAN dan Sinematek Indonesia kini tengah menjajaki kemungkinan dapat menjalin kerjasama menggelar program retrospeksi film Indonesia, menyaksikan kembali berbagai film karya sineas Indonesia yang pernah berjaya.

“Kita tonton film-film era emas perfilman Indonesia dengan sutradara-sutradara kawakan seperti Teguh Karya, Arifin C. Noor, Sjuman Djaya, Wim Umboh, Nya Abbas Acup, dan lainnya, semuanya ada dalam koleksi Sinematek. Melalui program retrospeksi ini kita harapkan dapat menjadi sarana edukasi dan motivasi bagi generasi insan film selanjutnya,” harap Adi.

Sinematek Indonesia

Sinematek Indonesia didirikan oleh sineas Misbach Yusa Biran. Lembaga non-profit yang bergerak dalam pengarsipan semua hal yang terkait dengan perkembangan film Indonesia.

Sinematek menyimpan tidak kurang dari 2.700 judul film, meliputi film-film Indonesia dari masa ke masa, sejak era film hitam putih, film berwarna, hingga film produksi terkini. Media koleksinya pun beragam, mulai dari rol film (seluloid), Kaset Video Betamax, kepingan VCD, hingga kepingan DVD.

Arsip Sinematek Indonesia terdiri dari 84 negatif untuk film hitam putih, dan 548 negatif untuk film berwarna. Menyimpan lebih dari 15.000 karya referensi, yang kebanyakan sulit ditemukan di tempat lain, termasuk kliping koran, naskah drama, buku, dan peraturan pemerintah. Kepemilikan lainnya mencakup poster film dan peralatan film.

Sinematek juga memiliki laboratorium film yang merawat rol-rol film yang umurnya sudah uzur. Rol film tersebut dari berbagai ukuran; 8 mm, 16 mm, 35 mm, hingga 70 mm. Namun paling banyak koleksinya berukuran 35 mm.

Rol-rol film tersebut disimpan dalam gudang penyimpanan di basement dengan suhu rata-rata 9 derajat Celsius yang harus terus terjaga selama 24 jam supaya rol film tidak rusak. Pihak Sinematek kini berupaya untuk mentransfer semuanya dalam format DVD. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *