Film ISENG Terpuruk di Negeri Sendiri, Raih 4 Nominasi di Ajang Festival Film Berlin

ISENG-pf-maret 2016-01

POSFILM.COM – Film Iseng adalah film Indonesia bergenre drama action, thriller yang disutradarai oleh Adrian Tang dan naskah film ditulis oleh Husein M Atmodjo dan Selvinaeri Cahyani untuk rumah produksi Absolute Pictures.

Film ini di Indonesia telah dirilis pada bulan Maret 2016 lalu, dan kurang berhasil menarik minat penonton. Ceritanya berpusat pada kejadian satu malam. Bercerita tentang kisah dari kota besar di Indonesia. Diceritakan berdasarkan dari kisah nyata sehari-hariyang lahir dari nafsu, penipuan, prostitusi, keserakahan dan lainnya yang memiliki karakter masing-masing yang melibatkan tentang strata kehidupan yang berbeda-beda.

Dengan berbagai macam aktivitas, hingga terjadi suatu pembunuhan. Namun kesemuanya itu saling keterkaitan.

Film ini dibintangi sederet aktor-aktris senior antaranya Tio Pakusadewo, Wulan Guritno, Dhonny Damara, Donny Alamsyah, Yayan Ruhiyan, Cecep Arif, Fandy Christian, Khiva Iskak.

Sekilas membaca judulnya ‘Iseng’, kita memang berpikir film ini digarap tidak serius. Namun ternyata film ini sungguh-sungguh digarap serius. Tidak hanya sisi ceritanya yang dibuat serius, tapi juga acting tiap karakter tokohnya, editing dan soudnya juga digarap serius.

Maka tak heran bila di ajang Internasional Filmmaker Festival of World Cinema Berlin 2016, Film ‘Iseng’ mampu menarik perhatian para juri dan penonton. Hasilnya, 4 nominasi diraih film ini dalam ajang yang akang berlangsung di Berlin pada 22-29 Oktober 2016 yakni Best Foreign Language Feature Film, Best Cinematography in A Foreign Film, Best Lead Actor in A Foreign Film (untuk Yayan Ruhiyan) dan Best Supporting Actor in A Foreign Film (untuk Tio Pakusadewo).

Yayan Ruhiyan tentu saja kaget saat diberi kabar oleh sutradara tentang hal tersebut. Dirinya tidak percaya masuk nominasi, apalagi nominasi festival film internasional. Namun Yayan juga tetap bersyukur atas pencapaian film ini di festival film internasional.

“Bukan hanya karena karyanya yang diapresiasi, tapi juga nama Indonesia yang dibawa bisa lebih dikenal di dunia perfilman Internasional,” ujar Yayan.

Yayan pun mengakui, saat diputar di Indonesia pada Maret lalu, film ‘Iseng’ nasibnya tidak jauh dengan film ‘Merantau’ saat pertama di putar di Indonesia. Kurang laku. Tapi saat dibawa ke luar negeri untuk mengikuti beberapa festival, memperoleh banyak apresiasi.

Yayan juga menambahkan, di Indonesia, minimnya apresiasi bukan hanya dari penontonnya saja, namun juga apresiasi dari lembaga sensor pun dirasakan masih kurang ‘bersahabat’.

Dengan adanya apresiasi dari dunia internasional, Yayan berharap kedepannya masyarakat dalam negeri bisa juga semakin menghargai karya sineas dalam negeri.

“Jangan hanya nonton film Hollywood yang enggak perlu mikir. Nonton film Indonesia juga harusnya gak pake mikir gimana-gimananya,” tandas Yayan.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *