Film “Boven Digoel” Perjuangan Dokter di Papua Menyelamatkan Ibu Melahirkan

BOVEN DIGOEL-Ddg-PF-06 2016-1

POSFILM.COM – Satu lagi film yang mengangkat cerita tentang pengabdian dan rasa kemanusia berlatar belakang budaya dan keindahan alam nusantara selesai diproduksi.  Film Boven Digoel, film seperti inilah yang membuktikan bahwa Indonesia memang kaya akan ide cerita untuk diankat menjadi film, dengan keindahan serta keunikan budaya dan alamnya.

Proses shooting film “Boven Digoel” telah selesai dilakukan di Kampung Yahim Sentani, Danau Love Yoka Abepura, Bandara Ama Sentani, Pelabuhan Jayapura, Kampung Netar Sentani, Pantai Kelapa Satu Merauke, Tanah Merah Boven Digoel, Kampung Ampera Boven Digoel, Wilayah Wet Boven Digoel dan Pelabuhan Boven Digoel.

Film Boven Digoel berdasar kisah nyata dalam buku yang diangkat jadi film ini menceritakan pergumulan dan perjuangan dokter muda bernama John,yang ditempatkan di puskesmas pedalaman Papua, yang berupaya menyelamatkan dua nyawa, yakni ibu dan bayinya.

Pertaruhan yang luar biasa. Bukan hanya hidup mati pada pasiennya, tapi juga hidup mati dokternya karena kondisi hutan dengan tidak ada bius untuk operasi, peralatan terbatas, tidak ada tenaga dokter yang memadai jadi melakukan operasi sesar dengan memakai silet.

Film Boven Digoel diproduksi Foromoko Matoa Indah Film dengan arahan sutradara FX Purnomo ini rencananya siap tayang di Hari Kesehatan Nasional atau sekitar bulan November 2016, di seluruh bioskop Tanah Air.

“Shootingnya telah dilakukan selama kurang lebih 20 hari dan kini segera memasuki proses paska produksi, “ kata sutradara FX Purnomo kepada wartawan, Sabtu (18/6/2016).

Lebih lanjut, sutradara yang akrab disapa Ipong Wijaya ini membeberkan tantangan dalam proses shooting-nya, yaitu kondisi alam Papua yang cukup susah untuk dijangkau.

“Team Produksi Film ‘Boven Digoel’ melakukan perjalanan dari kabupaten Merauke ke kabupaten Boven Digoel yang ditempuh dengan perjalanan darat selama 10 jam. Lokasi shooting-nya menggunakan set artistik yang riil dengan tempat kejadian di tahun 90-an, yaitu berupa puskesmas yang dulu digunakan untuk operasi sesar menggunakan silet,” ujarnya.
Banyak Dukungan

 

Film produksi PH pertama asli Papua ini mendapat banyak dukungan, mulai dari aktris senior  Christine Hakim, kemudian aktor muda berbakat Jflow Matulessy, dan para pemeran asal asli Papua seperti di antaranya Edo Kondologit, Lala Suwages, Ira Dimara, Maria Fransisca, Juliana Rumbarar, Ellen Aragay, Denny Imbiri, Echa Raweyai, Henry W. Muabuay, Bina Rianto, Tiot Karubuy, Yoppy Papey, Serly Wayoi, Jack Wadon, Ellin, Rey, Rossario Ivo dan Antonetta.

Salah seorang pemeran, Maria Fransisca adalah Putri Papua 2013 dan Finalis Putri Indonesia 2014 perwakilan Papua yang kini menjadi Duta Humas Polda Papua dan Duta Pemberantasan Narkoba Papua.

John Manangsang sebagai pelaku sejarah, membeberkan manfaatnya produksi film tersebut yang mengangkat kejadian nyata 25 tahun yang lalu untuk hari ini dan masa depan. Fakta membuktikan dari 25 tahun lalu dengan tahun sekarang, bahwa di Papua angka kematian ibu dan bayi sekarang semakin tinggi dan menduduki rangking nomer satu di Indonesia.

Film ini menunjukkan bagaimana kita dokter Papua berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan ibu melahirkan.

Sebelumnya, film ‘Boven Digoel’ yang berformat FTV dengan judul ‘Silet di Belantara Digoel Papua’ meraih penghargaan Piala Maya 2015 Kategori Film Daerah Terpilih.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *