(Film Asiyah, Biarkan kami Bersaudara) Bu Guru Aisyah, Katong Samua Basudara

Aisyah Biarkan Kami Bersaudara-pf-HL-2016

POSFILM.COM, Jakarta – Sebuah misi dan sebuah idealisme bisa ditunjukkan melalui film yang tidak selalu menggurui atau memberikan petitah petitih kepada penontonnya. Kemasan drama melalui akting dan cerita yang diarahkan sutradara film “Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara menemui titik sentuh perasaan persaudaraan antara suku, budaya dan agama anak bangsa negeri ini : Nusantara atau Indonesia.

Ya, film Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara, adalah salah satu film yang sangat layak ditonton oleh masyarakat Indonesia. Walaupun temanya sudah sering diangkat, namun cerita film ini menjadi beda, karena banyaknya film-film nasional yang mengangkat tema “kekinian” tanpa pesan moral dan pendidikan yang jelas. Bandingkan saja dengan AADC 2 yang sukses tembus 3 juta  lebih penonton, namun cerita dan dramatiknya hambar, tidak ada sesuatu yang baru.

Film “Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara”, sepenuhnya mengangkat budaya lokal, juga panorama Indonesia. Judulnya saja sudah menyiratkan makna yang dalam, santun dalam penulisan judul. Dramatiknya banyak yang bisa diambil khikmahnya.

Adalah, si Teteh Aisyah yang diperankan Laudya Cyntia Bella, wanita Sunda yang tinggal di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di daerahnya kawasan Ciwidey yang subur, sejuk, dan mudah mendapatkan air. Semua itu tak didapatkan si Teteh ketika memilih menjadi guru di daerah Atambua, Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan dengan Timor Leste.

Di Desa Derok, Atambua itulah Bu Guru Aisyah ditempatkan oleh sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Tak mudah bagi Aisyah untuk menyatu di desa yang kering dan keras, dan yang lebih prinsip lagi : Aisyah orang Sunda dan seorang muslimah, serta mengenakan Jilbab. Sedangkan warga setempat beragama Katolik yang fanatik akan keyakinannya itu.Tak semudah pergi ke pasar untuk diterima oleh penduduk setempat.

Galibnya sebuah film cerita tantangan itu menjadi konflik yang dibuat menarik oleh Sutradara Herwin Novianto, yang pada plot selanjutnya damai itu juga datang. Fordes, salah satu murid di desa Derok itu curiga bahwa Bu Guru Aisyah datang untuk membunuh kaum Katolik dan menghancurkan mereka.

Melalu pendekatan cinta dan misi pendidikan memajukan putra putri bangsa serta bantuan Kepala Adat setempat, Aisyah dapat diterima oleh warga setempat, meski berbeda tapi katong bersodara.

“Saya mendapatkan pengalaman baru dari film ini. Bahwa Indonesia memang kaya akan budaya. Dan, perbedaan Ciwidey dan Atambua adalah warna Indonesia,” ujar Bella tentang film terbarunya ini.

“Panasnya di sana pernah saya rasakan sampai 39-42 derajat. Karena saking semangatnya saya bisa dengan senang hati bekerja. Kebetulan sutradara Herwin Novianto orangnya tidak pernah marah dan banyak senyum,” ungkap Bella tentang pengalamannya syuting Aisyah.

Film produksi One Production ini juga diisi oleh para pemain Lyidia Kandou, Ge Pamungkas, Arie Kriting dan, Panji Surya Sahetapy.

”Saya punya idealisme bagaimana pendidikan bisa merata di Indonesia. Karena dengan pendidikan bangsa ini bisa terus maju,” ujar Hamdani Koestoro yang mendapat ide dari seorang temannya dan meneruskan kepada Jujur Prananto, seorang penulis ternama, yang kerap mendapatkan penghargaan di bidang penulisan skenario.

Sementara sutradara Herwin Novianto, peraih penghargaan Sutradara Terbaik lewat film Tanah Surga Katanya, pada FFI Yogyakarta 2012, berani menyertakan anak-anak asli Atambua untuk ikut main dalam film ini.

”Mereka tidak mengenal film dan belum pernah menonton film, tapi mereka begitu cepat menghapal naskah dan aktingnya baik sekali,” kata Herwin yang melakukan audisi untuk menseleksi para pemain tersebut.

Ada Sunda, Jawa, Batak, Minang, Ambon, Atambua, Aceh hingga Papua, itulah Nusantara kita, Itulah Indonesia kita. Beda agama, beda budaya, beda bahasa tapi kita satu suara : Majukan Indonesia ! Karena Katong Samua Basudara. [didang]

 

Berita Terkait :

http://posfilm.com/aisyah-kami-bersaudara-pengabdian-guru-muslimah-di-tengah-masyarakat-katolik-atambua-ntt/

http://posfilm.com/perankan-guru-muslim-di-atambua-laudya-cynthia-bella-tuai-pelajaran-hidup/

http://posfilm.com/suka-duka-ge-pamungkas-berperan-dalam-aisyah-biarkan-kami-bersaudara/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *