Aisyah Kami Bersaudara : Pengabdian Guru Muslimah di Tengah Masyarakat Katolik Atambua NTT

Aisyah Biarkan Kami Bersaudara-pf-2016-3

POSFILM.COM – Apa jadinya bila seorang gadis muslim yang berprofesi sebagai guru, diwajibkan untuk meninggalkan kampung halamannya demi mengajar di tengah masyakarat yang mayoritas beragama Katolik? Tema ini tampaknya yang coba diangkat oleh film karya Herwin Novianto bertajuk “Aisyah, Biarkan Kami Bersaudara”.

Film ini dibuka dengan pemandangan alam Indonesia yang eksotis nan indah di kawasan perkebunan teh di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Meski begitu, film berdurasi 2 jam ini lebih banyak menyoroti keadaan masyarakat di Dusun Derok, di Kabupaten Timur Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

Sinopsis

 

Aisyah Biarkan Kami Bersaudara-pf-2016-4 a

 

Film ini berkisah tentang seorang gadis sarjana pendidikan bernama Aisyah yang ingin mengabdikan ilmunya untuk kepentingan orang banyak. Itu sebab, ia bertekad untuk menjadi seorang guru.

Selama ini, Aisyah besar dan tinggal di daerah Ciwidey, Jawa Barat bersama ibu dan adik lelakinya. Namun tak disangka, ia justru mendapatkan kesempatan mengajar perdananya di tempat yang tak pernah ia ketahui sebelumnya, yaitu di sebuah sekolah dasar di desa pedalaman Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Mengajar di tempat yang jauh dan terasing merupakan tantangan tersendiri bagi Aisyah. Apalagi, Aisyah yang merupakan gadis muslim, harus mengajar di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Katolik.

 

Plus-Minus

 

Film garapan Film One Production ini terasa begitu sarat makna. Sebabnya, banyak pelajaran berharga yang akan dituai usai menyaksikan film ini. Dikemas dalam kisah tentang hubungan persaudaraan, cinta kasih dan toleransi di antara umat beragama, membuat film ini terasa begitu menyentuh, penuh haru, dan kadang terasa lucu melihat perjuangan Aisyah memenangkan hati para penduduk desa dan murid-murid kala mendapati dirinya berbeda di antara kebanyakan penduduk di Dusun Derok, Kabupaten Timur Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Selain itu, film yang naskahnya ditulis oleh Jujur Prananto ini terasa begitu apik membawa penonton memaknai rasa syukur atas nikmat yang Tuhan berikan dengan cara yang begitu lembut, tanpa sedikitpun menggurui. Semata-mata, penonton hanya disajikan realita masyakarat yang terbelakang, hidup dalam kemiskinan dengan kondisi yang memprihatinkan namun begitu semangat menjalani hidup, tanpa mengeluh apalagi berputus asa.

Tak hanya itu, meski bergenre drama, namun lakon dari Arie Kriting yang merupakan pelawak tunggal, Laudya Cynthia Bella dan Lydia Kandaow, aktris kawakan tanah air, terasa begitu natural, menggemaskan dan cerdas menyampaikan pesan moral dari film yang tengah mereka mainkan ini.

Namun sayang, tak ada gading yang tak retak. Meskipun secara keseluruhan film ini terasa begitu mempesona, namun masih ada satu kekurangan kecil yang terasa begitu mengganggu. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya produk yang menempel dalam jalinan cerita, membuat film ini terasa bagaikan iklan. Untungnya, tampilan beberapa produk tersebut hanya sebentar, walau terasa amat mengganggu karena kurang berbaur dengan jalan cerita yang ada.

Namun demikian, film yang diperankan oleh Laudya Cynthia Bella, Lydia Kandaou, Ge Pamungkas, Arie Keriting dan Panji Surya Sahetapy dan siap tayang pada 19 Mei mendatang ini sepatutnya masuk dalam daftar tonton wajib tahun ini. Pasalnya, tak hanya terasa begitu realistis memamparkan kenyataan hidup yang ada, film ini juga begitu sarat makna dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan usia dan lintas agama.[]

 

Berita Terkait :

http://posfilm.com/sinopsis-aisyah-biarkan-kami-bersaudara/

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *