Adisurya Abdy Merawat Wajah Indonesia Lewat Sinematek

Adi Suryaabdi-foto Didang-PF-05 2016

POSFILM.COM – Bila ingin melihat Indonesia pada masa- masa tertentu maka lihatlah melalui film. Karena melalui film apa dan bagaimana bangsa Indonesia kala itu.

”Film merupakan seni kreatif yang mengandung banyak aspek. Di film bisa kita tahu perkembangan teknologi, social dan budaya, pada masa tertentu.Bisa juga diartikan bahwa kita bisa melihat wajah Indonesia melalui film,” kata Ketua Sinematek Adisurya Abdi, yang ditemui di kantornya, Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan pekan lalu.

Guna mengetahui perkembangan wajah Indonesia dari berbagai aspek kehidupan itulah diperlukan adanya lembaga arsip film yang dibangun tahun 1975 oleh insan perfilman yang kita kenal sekarang dengan Sinematek. Bisa kita saksikan di film bagaimana merekam  perkembangan bahasa dan juga pembangunan bangsa kita.

Menurut pria yang akrab disapa Adi ini, Sinematek menyimpan lebih dari dua ribu judul film. Kebanyakan yang tersimpan adalah film-film cerita dan documenter. Produksi film – film tersebut berkalender tahun 1934 hingga sekarang. ”Selain fungsi kearsipan,sinematek juga berfungsi perawatan dan pendayagunaan. Gunanya bagi intelektual dan edukasi,” ungkap Adi.

Mereka yang berkunjung dan memanfaatkan Sinematek, mereka yang membuat skripsi dan disertasi. ”Yang datang kebanyakan untuk kepentingan edukasi dan intelektual. Mereka datang dari berbagai negara. Ada dari Amerika Serikat, Belanda, Australia dan negera Eropa lainnya,” ujar Adi yang menunjukkan screen room. Ruang bagi mereka yang ingin menonton film-film koleksi Sinematek.

Adi yang juga dikenal sebagai sutradara dan pencetus diselenggarakannya kembali Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 2004 setelah dua belas tahun tidak ada FFI, berharap pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan perhatian kepada Sinematek. ”Ya, selama ini masih lip service saja,” ujar Adi menyesalkan.

Dia memberi contoh di Thailand, Badan Arsip Film di negeri Gajah Putih itu, sangat diperhatikan oleh pemerintahnya. ”Di sana Sinemateknya ada ruang reservasi film, museum film dan ada bagi wisata edukasi dan inteletual di bidang film,” ujar Adi.

Keberlangsungan hidup Sinematek kini atas bantuan Yayasan Film Haji Usmar Ismail. Perawatan dan kegiatan Sinematek lainnya didanai oleh yayasan. ”Padahal, kalau mau ideal penempatan film harus terjaga dari kerusakan baik kondisi ruangan dan pengaturan suhu udaranya yang memadai,” ungkap pria kelahiran Medan tahun 1956 ini.

Adi berharap ke depan perhatian pemerintah terhadap Sinematek bisa lebih serius. ”Sebab, melalui film generasi muda dan generasi yang akan datang, bisa melihat perkembangan budaya, sosial dan teknologi bahkan gaya bertutur bahasa di masa kini dan lalu. Dan, itu jadi pelajaran buat mereka. Rawatlah wajah Indonesia ini melalui film-film yang ada di Sinematek,” pungkas Adi [didang]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *